Saturday, June 13, 2026

Legacy Of Faith

 Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026

“Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut  mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak, betapa Tuhan berkarya dalam kehidupanku. Meski kadang saya jg bingung dan masih ada keegoisan, kenapa ya Tuhan izinkan saya mendapat solusi dari persoalan ini, tidak langsung memberhentikannya saja?

Suara jahat itu seringkali mncul dan menjadikan anugerah Tuhan terasa tidak abadi dalam hidup saya Pak. Selain, berdoa ke Tuhan saya juga mau cerita ini ke Bapak. Saya ingin sekali sisa hidup saya bisa benar" mengenal Tuhan dan tau apa yang Tuhan mau. Kalau Pak Pendeta berkenan, saya ingin bila sudah kuat aktif berpelayanan di gereja serta mengurus pekerjaan Tuhan lainnya di dunia.

Mohon bantuannya Pak Pendeta, maafkan kalau chat saya mungkin masih kurang jelas ya Pak. Kankernya ternyata sudah menyebar ke usus, sehingga ini dibuatkan anus baru dan sudah banyak usus yg dipotong, masih ada sisa yg tidak bisa diambil dan diharapkan melalui kemoterapi. Menatap perjalanan itu, jikalau Tuhan berikan kekuatan untuk berpelayanan, saya benar-benar ingin mengupayakannya dan saat ini hanya Sabdha Winedhar yg ada dipikiran dina.”

Malam Pak.

saya jadi ingat kesaksian Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:16-17

"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami diperbaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."


Bagaimanakah kita biasanya merespons sebuah penderitaan yang hebat? Ketika tubuh digerogoti oleh sakit penyakit yang berat, sangat manusiawi jika seseorang mengeluh, marah, atau bahkan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Namun, hari ini kita dihadapkan pada sebuah untaian kalimat yang luar biasa dari seseorang. Di tengah tubuh yang sedang berjuang melawan kanker yang telah menyebar ke usus, menjalani operasi pemotongan organ yang menyakitkan, dan harus menatap bayang-bayang kemoterapi, dia justru meninggalkan sebuah warisan iman yang menggetarkan hati. Pesan terakhirnya bukanlah ratapan keputusasaan, melainkan sebuah kesaksian hidup yang selaras dengan apa yang disaksikan oleh Rasul Paulus dalam surat 2 Korintus 4:16-17.

Rasul Paulus menulis bahwa meskipun manusia lahiriah kita semakin merosot, namun manusia batiniah kita diperbaharui dari sehari ke sehari. Lewat pesannya, dia memperlihatkan dengan sangat jujur bagaimana tubuh fisiknya yang fana sedang merosot tajam. Ia bercerita tentang kanker yang menyebar dan usus yang harus dipotong. Tubuh jasmani manusia memang rentan dan bisa hancur oleh penyakit. Namun, keindahan imannya terpancar ketika kita melihat manusia batiniahnya yang justru semakin kuat dan diperbaharui. Di tengah keterbatasan fisik itu, fokusnya bukan lagi pada perkara-perkara duniawi, melainkan pada kerinduan yang mendalam untuk menggunakan sisa hidupnya demi benar-benar mengenal Tuhan dan tahu apa yang menjadi kehenda-Nya. Penderitaan fisik ternyata sama sekali tidak mampu memenjarakan jiwa yang rindu melekat pada Penciptanya.

Tentu saja, perjalanan iman di lembah kekelaman tidak pernah instan dan mudah. Paulus mengingatkan agar kita tidak tawar hati, karena ia tahu bahwa di tengah penderitaan, keraguan adalah musuh utama. Diapun dengan sangat manusiawi mengakui pertempuran batinnya. Ia bercerita tentang adanya kebingungan, ego, dan bagaimana suara-suara jahat sering kali muncul untuk membuat anugerah Tuhan seolah-olah tidak abadi. Memiliki iman yang kokoh bukan berarti kita bebas dari rasa takut atau bisikan intimidasi. Namun, alih-alih menyerah pada suara-suara gelap itu, dia memilih untuk membawa kerapuhannya ke dalam doa dan membagikannya kepada sesama orang beriman. Ia memilih untuk tetap percaya bahwa di balik proses medis yang melelahkan itu, Tuhan sedang berkarya dalam kehidupannya.

Melalui kacamata iman ini, kita diajak untuk merestorasi kembali cara kita memandang masalah. Paulus menggunakan kontras yang sangat ekstrem ketika ia menyebut penderitaan di dunia ini sebagai penderitaan ringan yang mendatangkan kemuliaan kekal yang jauh lebih besar. Bagi dunia, kanker stadium lanjut adalah penderitaan yang teramat berat. Namun, penderitaan itu menjadi "ringan" ketika ditimbang di neraca kekekalan. Dia menangkap perspektif surgawi ini dengan sangat indah. Pikirannya tidak lagi tertambat pada bagaimana mempertahankan kenyamanan bumi, melainkan bagaimana hidupnya bisa menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Kerinduannya yang menggebu-gebu untuk aktif berpelayanan di gereja menunjukkan bahwa yang ada di hatinya hanyalah perkara-perkara yang kekal.

Kini, saudari kita a telah menyelesaikan pertandingannya dengan sangat baik. Ia telah mencapai garis akhir, terbebas dari segala rasa sakit, dan telah menyambut mahkota kemuliaan kekal yang dijanjikan Tuhan. Namun, melalui pesan iman yang ditinggalkannya, ia seolah sedang berbicara dan berkhotbah kepada kita yang masih hidup dan memiliki tubuh yang sehat hari ini.

Kesaksian hidupnya menjadi teguran sekaligus undangan yang lembut bagi kita semua agar tidak menunggu datangnya badai atau rasa sakit untuk mencari Tuhan. Jika dia yang berada di atas tempat tidur rumah sakit begitu merindukan sisa hidupnya untuk mengenal hati Tuhan, bukankah kita yang sehat seharusnya lebih lagi menggunakan waktu kita untuk mencari-Nya? Hidup dan pesannya juga mengingatkan kita bahwa pelayanan adalah sebuah kehormatan, bukan beban. Di saat tubuhnya kehilangan sebagian organnya, yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana ia bisa mengurus pekerjaan Tuhan. Teladan ini menantang kita untuk merefleksikan kembali hidup kita: sudahkah kita menggunakan kesehatan dan waktu yang Tuhan beri untuk berdampak bagi sesama dan memuliakan nama-Nya?

Mari kita pandang setiap pergumulan hidup kita—baik itu sakit fisik, tekanan jiwa, maupun persoalan yang berat—dengan mata yang tertuju pada kekekalan. Segala air mata dan penderitaan di dunia ini ada batasnya dan bersifat sementara, namun perubahan batin dan kemuliaan yang sedang Tuhan tenun di dalam diri kita melalui ujian iman ini akan bertahan sampai selamanya.


Legacy Of Faith

 Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026 “Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut   mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak,...