Showing posts with label makanan tradisional. Show all posts
Showing posts with label makanan tradisional. Show all posts

Thursday, December 13, 2018

BANCAAN TRADISI YANG MEREKATKAN

Bancaan adalah kata yang sudah tidak asing lagi, aku mendengarnya dari sejak aku kecil sampai sekarang. Tidak hanya mendengarnya tetapi juga melakukan tradisi bancaan, karena kalau bapakku yang diundang tetangga yang mengadakan syukuran tidak bisa datang, biasanya akulah yang disuruh untuk mewakili. Tiap kali sehabis acara bancaan itu aku biasa membawa makanan yang lengkap beserta lauk-pauknya. Mulai dari dibungkus daun jati, lalu besek (wadah dari sayatan kulit bambu yang bentuk wadah), wadah dari plastik sampai yang pakai kardus seperti sekarang ini. Herannya, aku selalu senang untuk datang di tradisi bancaan, kenapa? Karena disana aku bisa bertemu dengan banyak orang dan teman-teman sebaya yang senasib dengan diriku (yang menggantikan orang tua).
Apa sih bancaan itu?  "Bancaan" dalam pengertian jawa berarti, tradisi makan makanan banyak orang dan bersama-sama. adapun bancaan sering dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada sang pencipta atas keberkahan, kenikmatan, kesehatan, rezeki dan umur yang panjang. Contoh yang sering dilakukan adalah kehamilan tujuh bulan, peringatan kematian, bancaan rumah baru, bancaan mendapatkan pekerjaan, sehabis pernikahan, dsb.
Biasanya, bancaan ini dilakukan dimalam hari setelah sholat imsak. Jaman waktu masih kecil, bancaan ini berupa nasi putih, kemudian lauk pauk (bisa tempe/tahu, ikan atau daging ayam) yang digelar diatas daun jati yang disambung-sambung menjadi sangat lebar diatas tikar. Setelah pak Kyai membacakan doa sesuai dengan yang diminta oleh yang mempunyai hajat, lalu ada beberapa orang yang kemudian membagi nasi dan lauknya dilembar daun jati kepada masing-masing orang yang hadir disitu. Bahkan jika tetangga yang diundang ada yang tidak hadir biasanya makanan yang sudah dibungkus dititipkan kepada yang hadir. 
Namun dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar, dengan berbagai alasan salah satunya ke-praktis-an, makanya sekarang kalau ada bancaan di masyarakat tidak lagi menggelar daun jati atau daun pisang namun sudah ditaruh di kotak kardus makanan.
Bagi masyarakat jawa bancaan tidak hanya sekedar makan bersama, tetapi sebagai alat pemersatu antar tetangga sekalipun berbeda agama dan keyakinan. Bancaan merupakan tatanan serta tuntunan tentang kebersamaan, kerukunan dan kesederhanaan melalui sebuah simbol nasi tumpeng yang dinikmati bersama dan ada doa yang menyertainya. Tradisi adat Jawa bancaan ini dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian budaya dan juga sebagai pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Tuesday, December 4, 2018

GURIHNYA GENDON ULAT POHON TURI

Korek...korek...dibatang bawah dekat akar pohon turi. "dapat...." ada 2 ulat yang sudah ditangan. Aku pindah ke pohon Turi berikutnya. Setengah jam berlalu, aku sudah mendapatkan 10 ekor ulat dari 4 pohon turi. Biasanya di setiap pohon Turi terdapat 2 sampai 3 ulat atau Gendhon. 


Memang untuk mendapatkan ulat pohon turi ini tidak begitu sulit bahkan terkesan cukup mudah. Tinggal cari pohon turi, lihat batang paling bawah, jika ada keratan, berlubang atau keluar getahnya berarti disitu ada ulatnya. Biasanya yang dimakan ulat ini, pohon turi yang sudah besar dan agak tua. Kemudian, korek lubang itu dengan pisau biar agak lebar, lihat kedalam (pasti akan ada disana), korek dengan batang kayu coba untuk dikeluarkan. Jika sudah keluar tinggal ambil. Mudah kan?


Bentuk ulat turi yang sering disebut gendhon, mempunyai tubuh gemuk gilig panjang berbuku-buku dengan warna putih susu dan moncong yang agak kemerahan. Warna putih ini juga menunjukkan bahwa hewan ini mempunyai kandungan protein yang tinggi. Si Gendhon memang terlihat menjijikkan karena berwujud ulat dan empuk (kenyal) badannya. 

Dibeberapa daerah di Jawa, Gendhon dipercaya dapat menyembuhkan masalah mulut, seperti sariawan ataupun gusi bengkak. Jika gendhon digoreng, biasanya akan mengeluarkan minyak yang cukup banyak. Gendhon goreng itu juga yang biasa aku santap, rasanya lesat dan gurih, karena ketika digoreng jadinya seperti kerupuk kulit sapi. "kemremes"  kata orang Jawa.

Coba deh...gurihnya gendon ulat pohon turi


SEDAPNYA SAYUR BECEK

Di warung makan, sebelah timur polsek Grobogan, aku memarkirkan motor untuk berhenti sejenak. Niatnya hanya ingin beli minum, karena kebetulan di dekat warung makan itu juga ada toko kelontong. Tapi setelah melihat warung makan itu lagi, jadi ingat kalau warung makan itu adalah warung yang dulu selalu menjadi tempat jujukan ketika aku diminta beli sayur becek oleh ibu. 
Aku melihat jam tangan, kebetulan sekali waktu menunjukkan pukul 11.35, aku urungkan niat beli minuman kemasan; "Kenapa tidak sekalian makan dan minum disitu, sekalian kalau masih jualan sayur becek aku bisa meleaspakan rindu terhadap sayu becek itu" pikirku. Aku memarkirkan motor lebih ketepi, lalu bergegas masuk ke warung makan.

"Kulanuwun, badhe maem, punapa wonten sayur becek budhe...?" (permisi, saya mau makan, apakah ada sayur becek budhe?)
"Wonten mas...lenggah rumiyin"kata penjual warung yang sudah berumur cukup tua.(Ada mas, duduk dulu, kata penjual warung yang sudah berumur cukup tua)
"nggih budhe" (iya budhe) sahutku
Beberapa saat sembari, menyodorkan mangkuk berisi sayur becek dan sepiring nasi putih, budhe penjual warung berkata: "monggo mas......lho...lho iki kan mas....(namaku disebut), nganti pangling budhe...lha saiki lemu..badhe tindak endi iki?"
"Inggih budhe punika kula...badhe nuweni simbah teng pondok...kalawau ngelak lajeng sisan maem teng mriki amargi kangen kaliyan sayur becek.."
Sembari makan dan setelah pemilik warung menyodorkan minuman, kami mengobrol sampai aku selesai makan sayur becek. Sedapnya sayur becek yang sudah lama tidak aku makan.
Rasa kangen untuk menyantap sayur becek telah terobati. Bener-bener kuliner yang tidak pernah akan tergantikan dilidah.
Sayur becek ini memang sayur khas penduduk kabupaten Grobogan dan sekitarnya. Sayur Becek yang dulunya hanya dihidangkan pada saat ada jamuan pesta orang desa, seperti perkawinan maupun juga khitanan khusus di daerah pedesaan, sekarang sudah banyak dijual di rumah makan yang terdapat di Grobogan .

Sayur Becek didominasi tulang iga sapi dengan kuah yang melimpah dan berwarna keruh, karena biasanya kuah itu didapatkan dari proses memasak daging dan iga sapi atau yang disebut kuah kaldu daging. Kuah itu kemudian dicampur dengan bumbu lain seperti cabe merah, bawang merah, bawang putih, kemiri dan ketumbar (yang ditumbuk menjadi satu) setelah itu, tumbukan tersebut dimasukkan dalam rebusan tulang iga. buat menyempurnakan aroma, rebusan tulang serta bumbu tersebut dicampur dengan daun kedondong serta daun dayakan. Dalam penyajiannya, sayur becek ini disajikan bersama sepiring nasi, kering tempe serta kacang tolo sebagai lalapan. 
Sekarang sekalipun aku sudah tidak lagi hidup di Grobogan, tetapi kalau berkunjung ke tempat saudara dan tanah kelahiran, pasti ku sempatkan untuk melepas rindu lidah terhadap sayur becek. Sayur Becek yang lezat dan sedapnya tak terlupakan, sedapnya sayur becek khas kota Grobogan.


BOTHOK YUYU

Bagi saudara-saudara yang hidup dipedesaan pasti tahu hewan yang satu ini. Betul dialah yuyu, hewan berkaki 10 (termasuk capit) yang berjalan miring, biasa ditemukan di perairan air tawar baik disawah, diparit maupun di sungai berarus lambat, selokan. Pada musim penghujan, yuyu (nama=Jawa dan Bali) melimpah jumlahnya. 

Menurut Wikipedia, Yuyu atau Yuyu sawah (Parathelphusa convexa) adalah sejenis yuyu dari suku Gecarcinucidae. Menyebar terbatas di Jawa dan Bali,yuyu ini biasa ditemukan di sawah-sawah, parit dan tanah bencah pada umumnya.
Kepiting bertubuh kecil; spesimen jantan terbesar dengan panjang dan lebar karapas berturut-turut 30 dan 40 mm. Sebagaimana namanya, tubuh spesies ini relatif tebal, lk. ½ lebar karapas, dan menggembung (convex) di bagian punggung. Tepi anterolateral bergigi tiga: satu di sisi luar ceruk mata, dan dua lagi merupakan duri epibranchial yang runcing, yang mengarah ke depan dan ke dalam. Di punggung bagian depan, melintang gigir memanjang dari sisi ke sisi yang disebut 'gigir tengkuk' (post-frontal crest, post-orbital cristae); gigir mana berujung kira-kira pada tengah-tengah dasar duri epibranchial yang pertama. Kaki-kakinya (pareopod) ramping; terdapat sebuah duri kecil yang runcing di ujung masing masing ruas merus, dekat persendian dengan ruas carpus.Ruas dactylus (ujung) melengkung, bergigi bergerigi.
Punggung berwarna kecokelatan hingga gelap; terdapat pola lekukan di punggung serupa huruf V atau U dengan sisi atas melebar, menyambung dengan lekukan huruf H di bagian bawahnya; agak-agak mirip pola jam pasir melebar. Sisi ventral keputihan atau kekuningan, dengan abdomen (hewan jantan) bentuk huruf T terbalik bersegmen.
Bagi para petani, yuyu ini adalah hama yang merusak, terutama bibit padi, makanya mereka seringkali memusnahkan yuyu ini. 
Tetapi bagi sebagian orang (khususnya dipedesaan), yuyu ini bisa dijadikan lauk yang lezat. Sewaktu aku masih hidup di daerah pedesaan. Orang tuaku seringkali mencari yuyu untuk dijadikan lauk makanan, biasanya kalau tidak digoreng, dibuat campuran sayur lompong atau dibuat bothok yuyu. bener-bener lezat. Kalian pasti tahu ya  kalau berbicara tentang bothok? 
Botok (bahasa Jawa bothok) adalah makanan khas Jawa yang terbuat awalnya dari ampas/bungkil kelapa yang sudah diambil sarinya (santan). Pada awalnya botok yang terbuat dari ampas kelapa ini dimasak, agar ampas kelapa yang masih bergizi ini tidak dibuang. Oleh karena itu ampas kelapa ini kemudian dibumbui dengan cabai, garam, merica dan daun salam, dibungkus dalam daun pisang, yang kemudian dikukus dalam uap panas. 
Berbeda sedikit dalam pembuatannya, jika lauk bothok ini dibuat salah salah satunya berbahan yuyu. 
Sementara, untuk membuat botok yuyu, kepiting sawah yang biasanya diperoleh dari sawah atau sungai dibersihkan hingga benar-benar tak ada kotoran atau lumut yang menempel di tubuh. Setelah itu, yuyu digiling atau ditumbuk hingga halus dan berair.
Saripati yuyu itu kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu botok, lalu dibungkus daun pisang. Setelah itu, botok dikukus hingga cukup matang untuk dihidangkan.
Bener-bener makanan lezat, apalagi biasanya lauk bothok yuyu ini disajikan dengan nasi jagung dan sayur lompong. Makyusss deh...

Legacy Of Faith

 Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026 “Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut   mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak,...