Saturday, January 8, 2022
YANG ADA ITU YANG TIDAK MAU
Thursday, September 9, 2021
BERJUANGLAH TERUS
Firman : 1 Timotius 6:11-21 (12)
Jemaat
terkasih dalam Tuhan
Salah
satu kata mutiara yang sering kita dengar yaitu “Hidup Adalah Perjuangan”
artinya Segala sesuatu dalam kehidupan ini harus kita upayakan, harus kita
perjuangkan. Hal itu mengingatkan kita bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang
kita inginkan kita membutuhkan perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak bisa hanya
dengan berdiam diri apalagi dengan bermimpi, yang kita inginkan akan datang
begitu saja. Hal ini juga berlaku dalam hidup iman kita. Tuhan Yesus telah
memberikan keselamatan kepada kita namun keselamatan itu juga harus
diperjuangkan agar yang sudah diberikan olehNya tidak musnah begitu saja.
Berkait
dengan hal itu, Rasul Paulus dalam ayat 12a terjemahan versi LAI yang menjadi
ayat Nats saat ini mengatakan “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang
benar dan rebutlah hidup yang kekal.” Untuk itulah engkau telah
dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.
Namun kali ini saya memakai terjemahan (versi Inggris NIV (New International
Version)= "berjuanglah dalam
perjuangan iman yang benar")
Jemaat
terkasih
Kata "berjuang" berasal dari bahasa Yunani yaitu a·go·niʹze·sthe, yang berasal dari kata (a·gonʹ) yang berarti ”tempat pertandingan.” Kemudian diadaptasi dalam kata bahasa Inggris ”agonize” (menderita sekali). Awalnya kata ini ditujukan kepada seorang atlet sedang menderita, atau berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hadiah di sebuah stadion dalam perlombaan untuk mendapatkan hadiah. Jadi, meskipun kata kerja Yunani yang digunakan di sini kemungkinan adalah suatu istilah khusus yang artinya berlomba dalam pertandingan-pertandingan Yunani, istilah tersebut menandaskan tindakan sepenuh jiwa berarti usaha separuh hati saja tidak akan cukup.
Jemaat
terkasih
Dalam
ayat 11 Rasul Paulus menyebut Timotius sebagai, “Manusia Allah”. Itu adalah sebutan yag luarbiasa karena dalam
Perjanjian Lama gelar ini diberikan untuk para nabi, namun, dalam Perjanjian
Baru, Timotius juga dipanggil dengan sebutan itu.
Apa
maksudnya? Yang dimaksud dengan manusia Allah adalah manusia yang telah dipilih
oleh Allah dan mau hidup terus dalam kebenaran Allah dan apapun tindakannya
hanya untuk memuliakan Allah.
Lalu
apa yang harus dilakukan oleh seorang “manusia Allah”?. Dalam ayat tersebut ada
tiga kata kerja penting yang menandai apa yang dikatakan Paulus. Timotius harus
melakukan: Pertama, “menjauhi semua ini”; kedua, “mengejar keadilan, ibadah,
kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; dan ketiga, “Bertanding dalam
pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal”. Tanggung jawab
yang berat, sebab menjauhi tindakan bersilat kata dan cinta uang,
ketidakadilan, ketidaksetiaan, kebencian, kekerasan, kemalasan dan tindakan
buruk selalu ada di tengah-tengah kita bahkan mempengaruhi kehidupan kita. Maka
tidak heran jika Paulus menyuruh Timotius untuk berjuang dalam perjuangan iman
yang benar karena hanya dengan perjuangan iman yang benar yang akan memperoleh
kehidupan yang kekal. Selain itu, Paulus mengatakan dalam ayat 20 “Hai Timotius, peliharalah apa yang telah
dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan
pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan” kata kerja aktif lagi yang ditulis disana
yaitu peliharalah dan hindarilah.
Paulus menugaskan Timotius untuk menjaga iman yang telah dipercayakan kepadanya (1Tim 1:18-19; 4:6-11; 6:13-16; 1Tim 6:20). Bahasa Yunaninya berarti "memelihara deposito" dan menunjuk kepada kewajiban suci untuk mengamankan milik berharga yang telah dipercayakan kepada seseorang. Injil Kristus telah diserahkan kepada kita oleh Roh Kudus (2Tim 1:14; 3:16). Kita harus memberitakan Injil sepenuh yang murni dalam kuasa Pentakosta dari Roh Kudus (Kis 2:4), selalu sedia untuk mempertahankan kebenaran-kebenaran berharga itu bila diserang, diputarbalikkan atau disangkal.
Jemaat
terkasih dalam Tuhan
Melalui nasehat Rasul Paulus kepada Timotius, gerejapun diingatkan saat ini bahwa:
- Gereja akan selalu diperhadapkan dengan pelbagai tantangan. Tantanganpun bisa terjadi dari dalam maupun dari luar. Namun kita justru harus berani menjawab tantangan itu dengan berusaha menjalani hidup dengan benar dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh.
- Sama seperti Timotius, kitapun dipanggil dan di utus oleh Kristus tidak berhenti melayani dan bersaksi bagi dunia walaupun mengalami penderitaan namun penderitaan yang diterima tidak akan sia-sia karena ada mahkota kehidupan yang disediakan oleh Tuhan.
- Beberapa kata kerja yaitu menjauhi bersilat kata dan cinta uang”; “mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; “Bertanding dalam pertandingan iman yang benar, peliharalah dan hindarilah omong kosong; harus terus diwujudkan dalam persekutuan gereja karena jika tidak demikian; apalah arti sebuah gereja dan apalah arti kekristenan serta apakah fungsinya bapstisan kita?
Thursday, November 12, 2020
KISAH DIBALIK LAGU BILA TOPAN K’RAS MELANDA HIDUPMU (Kidung Jemaat 439)
Acapkali ayahnya bernyanyi di gereja, Johnson kecil selalu akan berdiri di kursi jemaat untuk mendengarkan suaranya. Ia dan warga gereja yang lain senang bahkan mungkin takjub setiap kali mendengar pujian yang dilantunkan oleh ayahnya. Makanya, sejak kecil johson memiliki kerinduan besar untuk bisa bernyanyi di gereja. Ia ingin seperti ayahnya yang telah memberikan teladan, selain pandai berdagang ayahnya juga seorang penyanyi yang bersuara merdu.
Setelah remaja pun, Johnson terus
berusaha agar bisa menjadi seorang penyanyi gereja yang dikagumi seperti
ayahnya. Namun sayangnya, betapapun dia sudah berlatih, ternyata suaranya
tidaklah sebagus suara ayahnya dan semua orang menyadari hal itu. Johnson pun
terpaksa harus menghentikan niatnya untuk menjadi penyanyi rohani yang sukses.
Menginjak usia pemuda, Johnson Oatman
yang lahir 21 April 1856 di New Jersey itu berhasrat untuk melayani dengan cara
lain. Pada umur 19 tahun dia bergabung dengan gereja Metodis. Dan setelah
bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan, dia ditahbiskan menjadi pendeta.
Johnson pun mulai melayani sebagai pendeta sepenuh waktu. Namun sekali lagi dia
harus menerima fakta yang pahit, semua orang menyadari bahwa dia kurang
berbakat dalam berkhotbah. Karena itu Johnson tidak lagi menjabat sebagai
pendeta fulltime. Hanya sekali-sekali saja dia diberi kesempatan untuk mengisi
pelayanan kotbah.
Untuk menghibur hatinya, Johnson
kemudian terjun ke dalam dunia bisnis, dia bekerja sama dengan ayahnya.
Bisnisnya dalam bidang retail justru sukses. Selain itu juga mengurus sebuah
biro asuransi yang besar di New Jersey. Penghasilan Johnson pun kini lebih dari
cukup secara materi. Meskipun Johnson telah menjadi pebisnis yang sukses, tapi
masih ada kekecewaan di hatinya. Dia bertanya-tanya, apa dia memang tidak dapat
menyamai ayahnya dalam melayani Tuhan? Dia sudah berusaha melayani dengan
menyanyi dan berkhotbah, namun dalam kedua bidang pelayanan itu ternyata dia
tidak bisa berkembang. Tidak banyak orang yang diberkati saat dia menyanyi
maupun berkhotbah.
Pada tahun 1878, Johnson Oatman
menikahi Wilhelmina Reid. Mereka bersama memiliki tiga orang anak. Namun ia terus
menggumuli apa yang bisa dia lakukan untuk melayani Tuhan dengan baik. Akhirnya
ketika usianya menginjak 36 tahun, Johnson mulai menemukan talentanya. Pada
saat itu dia mulai mengarang puisi berisi syair-syair rohani. Puisi-puisi
rohani Johnson yang kemudian menjadi lagu itu dengan cepat menjadi populer. Dia
menulis lagu hampir setiap hari, dengan rata-rata 200 lagu setahun dan memiliki
lebih dari 5.000 himne, termasuk lagu-lagu seperti Higher Ground dan No, Not One,
yang dia klaim sebagai favoritnya. Namun, ketika dipaksa untuk menetapkan harga
untuk nyanyiannya, ia menolak untuk menetapkan apa pun selain $ 1 per nyanyian.
Pada waktu Johnson berumur 41 tahun, dia mengarang sebuah puisi rohani yang diberi judul ‘Count Your Blessings’ atau ‘Hitung Berkatmu’.
Seorang penulis berkata tentang
Count Your Blessings, "Itu seperti seberkas sinar matahari yang telah
mencerahkan tempat-tempat gelap di bumi." Sejak awal itu sangat populer di
Inggris Raya, di mana dikatakan, “Para lelaki menyanyikannya, para lelaki
bersiul, dan para ibu menyenandungkan lagu itu untuk menidurkan bayi mereka.”
Selama kebangunan rohani di Wales itu adalah salah satu nyanyian pujian yang
dinyanyikan di setiap kebaktian.
Kita bersyukur karena Johnson
Oatman Jr. tidak menjadi putus asa walaupun selama bertahun-tahun dia harus
bergumul untuk menemukan talentanya. Karena dia terus tekun menggumuli hal itu,
akhirnya dia menemukan talentanya yang luar biasa. Dan kini salah satu karyanya
itu, yaitu lagu ‘Count Your Blessings’ telah diterjemahkan ke berbagai bahasa
dan menjadi berkat bagi berjuta-juta orang. Bahkan orang yang cacat parah dan
diasingkan seperti wanita penderita kusta itu, hatinya melambung meluap dengan
penuh sukacita saat menyanyikan lagu ‘Hitung Berkatmu’.
KISAH DIBALIK LAGU SUCI, SUCI, SUCI (Kidung Jemaat 2)
Awal mulanya lagu ini digunakan untuk ibadah hari Minggu Tri tunggal, sebab isinya mengundang para penyembah untuk bergabung dalam memuji keTuhanan Trinitas, memparafrasekan Wahyu 4:1-11, dan dari visi Yohanes tentang penyembahan tanpa akhir di Surga, ini adalah contoh dari upaya patuh Heber untuk menghindari emosi yang berlebihan. Namun kemudian lagu ini dinyanyikan diawal ibadah dalam peribadatan secara umum.
Himne yang sampai sekarang masih kita
nyanyikan ini ditulis pada awal 1800-an selama Heber masih menjadi vikaris
(1807-1823) di Hodnet, Shopshire, Inggris. Disana ia menjadi penulis himne yang
produktif sampai menghasilkan lebih dari 100 himne. Bahkan
himne misionaris yang agung, " From Greenland's icy
mountains Dari pegunungan es
Greenland," terlepas dari kiasan India ("untaian karang India",
"pulau Ceylon")-( From Greenland's icy mountains,"
notwithstanding the Indian allusions ("India's coral strand,"
"Ceylon's isle) ditulis sebelum dia menerima tawaran dari Calcutta. Lagu
pemakaman yang menyentuh, "Engkau telah pergi ke kuburan," ditulis
tentang kehilangan bayi pertamanya, yang merupakan kesedihan yang mendalam
baginya. Beberapa himne diterbitkan (1811-16) di Christian Observer, sisanya
tidak diterbitkan sampai setelah kematiannya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada Heber, Himne
yang dibuatnya diterbitkan pertama kali dalam A Selection of Psalms and Hymns
for Parish Church of Banbury (Edisi ketiga, 1826) dan kemudian oleh janda
penulis dalam Hymns Written and Adapted to the Weekly Church Service of the
Year (1827).
Reginald Heber
lahir 21 April 1783 dari keluarga kaya dan terpelajar. Dia adalah seorang
pemuda yang cerdas, menerjemahkan sebuah puisi klasik Latin ke dalam syair
bahasa Inggris pada saat dia berusia tujuh tahun, kuliah di Oxford pada usia
17, dan memenangkan dua penghargaan untuk puisinya selama berada di sana.
Setelah lulus ia melayani sebagai pendeta di gereja ayahnya di desa Hodnet
dekat Shrewsbury di bagian barat Inggris di mana ia tinggal selama 16 tahun.
Ditahbiskan pada tahun 1807, dan kemudian mengambil alih paroki tua ayahnya di
Shropshire setelah kematian ayahnya pada tahun 1804. Dia segera menjalankan tugas
sebagai pendeta desa, setelah menikahi Amelia, putri Dr. Shipley, dekan St.
Asaf.
Dalam tugasnya,
Reginald menggabungkan tugas pastoralnya dengan tugas geraja lainnya, menulis
himne, dan karya sastra yang lebih umum yang termasuk studi kritis karya lengkap
dari pendeta abad ke-17, Jeremy Taylor. Selama menjalankan tugas sebagai uskup,
Reginald juga melakukan perjalanan panjang dari Skandinavia, Rusia dan Eropa
Tengah.
Pada tahun 1812
ia dijadikan prebendary (berhubungan dengan administrasi) St Asaf, atas
permintaan ayah mertuanya. Pada tahun 1815 ia diangkat sebagai dosen Bampton di
Oxford, dan pada tahun 1822 sebagai pengkhotbah di Lincoln's Inn, dan pada
akhir tahun yang sama (melalui perantaraan temannya CWW Wynn) ia ditawari
jabatan kosong di Calcutta. Di India, ia diangkat sebagai uskup di Calcutta
pada tahun 1823.
Selama masa
keuskupannya yang singkat, ia melakukan
perjalanan yang sangat luas di wilayah keuskupannya di India, dan bekerja keras
untuk meningkatkan kondisi kehidupan spiritual dan kehidupan umum dari umatnya.
Selain itu, Reginald harus menjalani
tugasnya dengan Kombinasi dari tugas yang sulit, iklim yang tidak bersahabat
dan kondisi kesehatan yang tidak terlalu diperhatikan sehingga membawa
kehancuran dan kematian saat mengunjungi Trichinopoly (sekarang
Tiruchirappalli). Dia meninggal karena stroke pada tanggal 3 April 1826.
Meskipun
keuskupan Heber singkat, dia telah meninggalkan kesan yang baik, dan berita
kematiannya membawa banyak penghormatan dari seluruh India. Sir Charles Grey,
seorang teman lama Oxford yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Calcutta,
berbicara tentang keceriaan Heber, humor yang baik, kesabaran dan kebaikannya.
Dia melakukan
perjalanan tanpa kenal lelah melalui semua bagian keuskupannya yang berat,
tidak hanya melaksanakan tugas uskupnya dengan rajin, tetapi juga menyembuhkan
perbedaan dan menyemangati hati serta menguatkan tangan para pekerja Kristen
kemanapun dia pergi.
Sunday, March 22, 2020
APA PENTINGNYA IBADAH KELUARGA?
Wednesday, January 15, 2020
Main Bola dan Main Air
Wednesday, December 18, 2019
BAPAK......(DI MASA MUDAKU)
Legacy Of Faith
Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026 “Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak,...
-
Acapkali ayahnya bernyanyi di gereja, Johnson kecil selalu akan berdiri di kursi jemaat untuk mendengarkan suaranya. Ia dan warga gereja yan...
-
LITURGI PERTUNANGAN Votum dan Salam PF : Pertolongan kita adalah didalam Nama Tuhan Yang Menciptakan Langit dan bumi. Ka...


