Friday, April 7, 2023

KISAH DIBALIK LAGU NKB 89 'KU TAHU MUKHALISKU HIDUP

Jessie Brown Pounds lahir di Hiram, Ohio, di sebuah kota pinggiran Cleveland pada tanggal 31 Agustus 1861. Ia lahir dari dari keluarga petani di desa Hiram, Portage County, Ohio. Ayahnya Bernama Holland Brown dan ibunya Bernama Jane Abel Brown.

Jessie sebenarnya tumbuh menjadi gadis yang normal, namun kesehatan yang buruk ketika masih anak-anak memaksanya hanya menerima Pendidikan di rumah. Dia senang menulis baik artikel, puisi maupun syair, sehingga tidak heran jika pada usia 15 tahun, dia mulai berani mengirimkan artikel ke surat kabar Cleveland dan berbagai publikasi keagamaan. 


Salah satu artikelnya berjudul, "The Passing of Prince Albert,", selain itu ia juga menulis novel "Inspirasional" seperti Rachel Sylvestre (1904); novel-novel ini seringkali bercerita tentang keinginan Alexander Campbell untuk hidup menurut doktrin Perjanjian Baru. Perombakan sastranya adalah penulis Inggris George Eliot [Mary Ann Evans], yang sering dia kutip, dan Elizabeth Barrett Browning. Jessie bahkan memilih nama pena "Auris Leigh" saat menulis untuk Christian Evangelist yang terinspirasi oleh pahlawan feminis populer Browning, Aurora.

"Anywhere with Jesus" mungkin adalah puisinya yang paling terkenal. Beberapa puisinya telah diatur ke sejumlah partitur musik, yang paling dikenal adalah lagu "Serenity" oleh Daniel B. Towner (1850–1919). Puisinya tahun 1896 "Beautiful Isle" menjadi lagu "Beautiful Isle of Somewhere", yang dinyanyikan pada pemakaman Presiden McKinley dan dikritik oleh Presiden Wilson.

Jessie meninggal di rumahnya di Hiram pada tanggal 3 Maret 1921.

Friday, March 31, 2023

Kuatkan Hatimu, Berdirilah Teguh!

Hagai 2:1b-10; Mazmur 145:1b-5; 17-21; 2 Tesalonika 2:1-5, 13-17; Lukas 20:27-38 

Hagai 2:1b-10

Setiap orang bisa saja memiliki pengalaman masa lalu bahkan tidak sedikit berupa penderitaan, dan persoalan hidup yang berat, atas hal tersebut malah ada saja yang hidupnya dipengaruhi oleh peristiwa masa lalu bahkan pengaruh yang bersifat negatif. Misalnya melahirkan disorientasi sifat: pemarah yang diakibatkan oleh karena pengalaman masa lalu yang sering tertekan perasaan batinnya; cemas dan kuwatir karena pernah mengalami trauma terancam hidupnya; dan bentuk-bentuk disorder sifat, batin, dan perilaku yang lainnya. Keadaan jiwa yang dipengaruhi pengalaman negatif masa lalu seperti ini akan membuat hidup seseorang kehilangan damai sejahtera, maka perlu dibantu untuk dibebaskan dan dimenangkan dari kemelut masa lalunya supaya setiap orang menjadi kuat dan teguh menjalani hidup hari ini untuk menggapai masa depan yang penuh pengharapan.

Tentu bukanlah perkara mudah untuk lepas dari persoalan masa lalu, apalagi jika itu hadir lagi dalam kehidupan saat ini. Bangsa Israel mengalami keterpurukan hidup pasca pembuangan, terutama terpuruk dalam kehidupan rohani, yaitu bangunan bait Allah yang tidak terawat dan bahkan hancur ditinggalkan para umat. Dalam situasi batin yang seperti ini, Hagai mendapat kasih karunia dari TUHAN, untuk menyerukan nubuat terbuka kepada para pemimpin dan segenap umat tentang pembangunan kembali rumah TUHAN. Nubuat yang disampaikan juga bernilai penyemangat dan motivasi untuk segera meninggalkan keterpurukan dan melangkah maju membangun harapan (Hagai 2:5). Seruan Hagai ini yang perlu kita sikapi lebih agar memotivasi hidup kita untuk selalu Kuat Hati dan Berdirilah Teguh! Bagaimana caranya? Pertama, dari hal sederhana bersyukur dan pujilah Tuhan senantiasa seperti yang disarankan oleh pemazmur. Daud dalam keterpurukannya merasakan suasana hati yang berat, namun ternyata ia justru memuji-muji TUHAN dan merasakan betapa besar dan banyaknya kebaikan dari TUHAN yang ia alami. (Mazmur 145:14); kedua, menjaga kemurnian dan kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus, yang olehNya kita beroleh pengampunan dosa, penebusan dari segala kesalahan, dan keselamatan (2 Tesalonika 2:13). Untuk itu sikap kita menjali panggilan hidup di dunia harus penuh dengan sukacita, dengan sabar dan setia menanti kedatangan Tuhan Yesus, memegang teguh iman, dan mengisi hidup dengan selalu menghasilkan karya yang baik. Ketiga, Berkait dengan kondisi masa lalu didunia dan masa depan di kekalan, Tuhan Yesus menyadarkan kepada kita tentang pengharapan orang percaya akan kehidupan kekal. Itu mendorong kita untuk menjadi lebih bertumbuh dan bisa mengalami pembebasan dari beragam ikatan masa lalu, serta memupuk harapan terhadap hari esok dan masa depan.

Membangun pola berpikir, batin, dan sikap yang baru berdasar-kan nilai-nilai iman Kristen untuk menciptakan kekuatan yang mampu melepasakan diri dari kungkungan pengalaman masa lalu yang tidak baik, akan menajadi pilihan. Sampai pada akhirnya setiap orang bisa berdamai dengan masa lalu bahkan dapat memakainya secaran postif pengalaman masa lalu tersebut untuk membangun masa depannya.

Saturday, January 8, 2022

YANG ADA ITU YANG TIDAK MAU

Warisan hidup yang aku terima dari ayahku adalah perkataannya. Ada satu perkataan yang selalu ku pegang dan ini yang sangat memotovasi diriku dalam belajar banyak hal. 

"TIDAK ADA ORANG YANG TIDAK BISA, YANG ADA ITU TIDAK MAU"




Apa maksudnya?
waktu itu ayahku menjelaskan bahwa semua orang yang diciptakan Tuhan diberikan anugerah dan talenta. Tinggal apakah orang itu mau untuk melahirkan dan mengembangkan talentanya atau tidak. Seringkali umumnya, kita mendengar jawaban seseorang ketika diminta melakukan sesuatu "Mohon maaf saya tidak bisa" Benarkah tidak bisa? bisa jadi orang itu tidak percaya diri, malu, atau memang tidak mau. Nah itu..yang ingin saya singgung, seringkali orang dengan gampang mengatakan tidak mau, padahal belum dicoba. Saya jadi ingat, ketika aku mengatakan yang sama "saya tidak bisa pak". Lalu ayahku bilang "wong ketok kok ora iso, padune ora gelem" (hal yang terlihat masak tidak bisa, yang ada kamu tidak mau). 
Saya belajar dari ayah tentang banyak hal, bagiku, ayah adalah orang yang serba bisa. Mulai dari beternak, memasak, memahat patung, menggambar, semua dilakukannya. Aku belajar gambar, melukis dari beliau, aku belajar budidaya ikan dari beliau, aku belajar memelihara burung dan hewan lain juga dari beliau....kuncinya hanya itu, tidak ada yang tidak bisa, selama bisa dilihat pasti bisa dikerjakan. 
Hal itu sekarang terbukti, selama aku mau melakukan, pasti bisa menjalankan, namun selama aku tidak mau maka tidak akan bisa menjalankan. 
Ketika ilmu Desain muncul melalui program adobe atau Corel, aku pun belajar; ketika editing video dimasa pandemi Covid-19 mencuat, akupun juga belajar untuk editing. Ternyata juga bisa, dan kalau kamu tahu hasilnya bisa dilihat di channel Youtube Adi Sap Kisah atau bisa dilihat di Channel Arsaldenta PA (channel anakku).
Sekalipun tidak expert tapi sudah memulai nyatanya bisa. aku yakin kalau kamu punya motivasi yang sama "Tidak ada orang yang tidak bisa, yang ada itu yang tidak mau" maka aku yakin kamu akan lebih jago dari aku. Asal mau dan tekun, pasti memperoleh buahnya. 

Thursday, September 9, 2021

BERJUANGLAH TERUS

Firman :  1 Timotius 6:11-21 (12)

Jemaat terkasih dalam Tuhan

Salah satu kata mutiara yang sering kita dengar yaitu “Hidup Adalah Perjuangan” artinya Segala sesuatu dalam kehidupan ini harus kita upayakan, harus kita perjuangkan. Hal itu mengingatkan kita bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan kita membutuhkan perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak bisa hanya dengan berdiam diri apalagi dengan bermimpi, yang kita inginkan akan datang begitu saja. Hal ini juga berlaku dalam hidup iman kita. Tuhan Yesus telah memberikan keselamatan kepada kita namun keselamatan itu juga harus diperjuangkan agar yang sudah diberikan olehNya tidak musnah begitu saja.

Berkait dengan hal itu, Rasul Paulus dalam ayat 12a terjemahan versi LAI yang menjadi ayat Nats saat ini mengatakan “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. Namun kali ini saya memakai terjemahan (versi Inggris NIV (New International Version)= "berjuanglah dalam perjuangan iman yang benar") 

Jemaat terkasih

Kata "berjuang" berasal dari bahasa Yunani yaitu a·go·niʹze·sthe, yang berasal dari kata (a·gonʹ) yang berarti ”tempat pertandingan.” Kemudian diadaptasi dalam kata bahasa Inggris ”agonize” (menderita sekali). Awalnya kata ini ditujukan kepada seorang atlet sedang menderita, atau berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hadiah di sebuah stadion dalam perlombaan untuk mendapatkan hadiah. Jadi, meskipun kata kerja Yunani yang digunakan di sini kemungkinan adalah suatu istilah khusus yang artinya berlomba dalam pertandingan-pertandingan Yunani, istilah tersebut menandaskan tindakan sepenuh jiwa berarti usaha separuh hati saja tidak akan cukup.

Jemaat terkasih

Dalam ayat 11 Rasul Paulus menyebut Timotius sebagai, “Manusia Allah”.  Itu adalah sebutan yag luarbiasa karena dalam Perjanjian Lama gelar ini diberikan untuk para nabi, namun, dalam Perjanjian Baru, Timotius juga dipanggil dengan sebutan itu.

Apa maksudnya? Yang dimaksud dengan manusia Allah adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah dan mau hidup terus dalam kebenaran Allah dan apapun tindakannya hanya untuk memuliakan Allah.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang “manusia Allah”?. Dalam ayat tersebut ada tiga kata kerja penting yang menandai apa yang dikatakan Paulus. Timotius harus melakukan: Pertama, “menjauhi semua ini”; kedua, “mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; dan ketiga, “Bertanding dalam pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal”. Tanggung jawab yang berat, sebab menjauhi tindakan bersilat kata dan cinta uang, ketidakadilan, ketidaksetiaan, kebencian, kekerasan, kemalasan dan tindakan buruk selalu ada di tengah-tengah kita bahkan mempengaruhi kehidupan kita. Maka tidak heran jika Paulus menyuruh Timotius untuk berjuang dalam perjuangan iman yang benar karena hanya dengan perjuangan iman yang benar yang akan memperoleh kehidupan yang kekal. Selain itu, Paulus mengatakan dalam ayat 20 “Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”  kata kerja aktif lagi yang ditulis disana yaitu peliharalah dan hindarilah.

Paulus menugaskan Timotius untuk menjaga iman yang telah dipercayakan kepadanya (1Tim 1:18-19; 4:6-11; 6:13-16; 1Tim 6:20). Bahasa Yunaninya berarti "memelihara deposito" dan menunjuk kepada kewajiban suci untuk mengamankan milik berharga yang telah dipercayakan kepada seseorang. Injil Kristus telah diserahkan kepada kita oleh Roh Kudus (2Tim 1:14; 3:16). Kita harus memberitakan Injil sepenuh yang murni dalam kuasa Pentakosta dari Roh Kudus (Kis 2:4), selalu sedia untuk mempertahankan kebenaran-kebenaran berharga itu bila diserang, diputarbalikkan atau disangkal.

Jemaat terkasih dalam Tuhan

Melalui nasehat Rasul Paulus kepada Timotius, gerejapun diingatkan saat ini bahwa:

  1. Gereja akan selalu diperhadapkan dengan pelbagai tantangan. Tantanganpun bisa terjadi dari dalam maupun dari luar. Namun kita justru harus berani menjawab tantangan itu dengan berusaha menjalani hidup dengan benar dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan sungguh-sungguh.
  2. Sama seperti Timotius, kitapun dipanggil dan di utus oleh Kristus tidak berhenti melayani dan bersaksi bagi dunia walaupun mengalami penderitaan namun penderitaan yang diterima tidak akan sia-sia karena ada mahkota kehidupan yang disediakan oleh Tuhan.
  3. Beberapa kata kerja yaitu menjauhi bersilat kata dan cinta uang”; “mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; “Bertanding dalam pertandingan iman yang benar, peliharalah dan hindarilah omong kosong; harus terus diwujudkan dalam persekutuan gereja karena jika tidak demikian; apalah arti sebuah gereja dan apalah arti kekristenan serta apakah fungsinya bapstisan kita?
Mari bersama kita berjuang untuk melakukan bersama, walaupun menderita tetapi penderitaan kita bukan karena tindakan jahat namun tindakan yang mendatangkan kerajaan Allah bagi sesama. “Berjuanglah terus” jemaat GKJ Sabda Winedhar. “berjuanglah dalam perjuangan iman yang benar.” Amin


Thursday, November 12, 2020

KISAH DIBALIK LAGU BILA TOPAN K’RAS MELANDA HIDUPMU (Kidung Jemaat 439)

Acapkali ayahnya bernyanyi di gereja, Johnson kecil selalu akan berdiri di kursi jemaat untuk mendengarkan suaranya. Ia dan warga gereja yang lain senang bahkan mungkin takjub setiap kali mendengar pujian yang dilantunkan oleh ayahnya. Makanya, sejak kecil johson memiliki kerinduan besar untuk bisa bernyanyi di gereja. Ia ingin seperti ayahnya yang telah memberikan teladan, selain pandai berdagang ayahnya juga seorang penyanyi yang bersuara merdu.

Setelah remaja pun, Johnson terus berusaha agar bisa menjadi seorang penyanyi gereja yang dikagumi seperti ayahnya. Namun sayangnya, betapapun dia sudah berlatih, ternyata suaranya tidaklah sebagus suara ayahnya dan semua orang menyadari hal itu. Johnson pun terpaksa harus menghentikan niatnya untuk menjadi penyanyi rohani yang sukses.

Menginjak usia pemuda, Johnson Oatman yang lahir 21 April 1856 di New Jersey itu berhasrat untuk melayani dengan cara lain. Pada umur 19 tahun dia bergabung dengan gereja Metodis. Dan setelah bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan, dia ditahbiskan menjadi pendeta. Johnson pun mulai melayani sebagai pendeta sepenuh waktu. Namun sekali lagi dia harus menerima fakta yang pahit, semua orang menyadari bahwa dia kurang berbakat dalam berkhotbah. Karena itu Johnson tidak lagi menjabat sebagai pendeta fulltime. Hanya sekali-sekali saja dia diberi kesempatan untuk mengisi pelayanan kotbah.

Untuk menghibur hatinya, Johnson kemudian terjun ke dalam dunia bisnis, dia bekerja sama dengan ayahnya. Bisnisnya dalam bidang retail justru sukses. Selain itu juga mengurus sebuah biro asuransi yang besar di New Jersey. Penghasilan Johnson pun kini lebih dari cukup secara materi. Meskipun Johnson telah menjadi pebisnis yang sukses, tapi masih ada kekecewaan di hatinya. Dia bertanya-tanya, apa dia memang tidak dapat menyamai ayahnya dalam melayani Tuhan? Dia sudah berusaha melayani dengan menyanyi dan berkhotbah, namun dalam kedua bidang pelayanan itu ternyata dia tidak bisa berkembang. Tidak banyak orang yang diberkati saat dia menyanyi maupun berkhotbah.

Pada tahun 1878, Johnson Oatman menikahi Wilhelmina Reid. Mereka bersama memiliki tiga orang anak. Namun ia terus menggumuli apa yang bisa dia lakukan untuk melayani Tuhan dengan baik. Akhirnya ketika usianya menginjak 36 tahun, Johnson mulai menemukan talentanya. Pada saat itu dia mulai mengarang puisi berisi syair-syair rohani. Puisi-puisi rohani Johnson yang kemudian menjadi lagu itu dengan cepat menjadi populer. Dia menulis lagu hampir setiap hari, dengan rata-rata 200 lagu setahun dan memiliki lebih dari 5.000 himne, termasuk lagu-lagu seperti Higher Ground dan No, Not One, yang dia klaim sebagai favoritnya. Namun, ketika dipaksa untuk menetapkan harga untuk nyanyiannya, ia menolak untuk menetapkan apa pun selain $ 1 per nyanyian.

 


Pada waktu Johnson berumur 41 tahun, dia mengarang sebuah puisi rohani yang diberi judul ‘Count Your Blessings’ atau ‘Hitung Berkatmu’.

Seorang penulis berkata tentang Count Your Blessings, "Itu seperti seberkas sinar matahari yang telah mencerahkan tempat-tempat gelap di bumi." Sejak awal itu sangat populer di Inggris Raya, di mana dikatakan, “Para lelaki menyanyikannya, para lelaki bersiul, dan para ibu menyenandungkan lagu itu untuk menidurkan bayi mereka.” Selama kebangunan rohani di Wales itu adalah salah satu nyanyian pujian yang dinyanyikan di setiap kebaktian.

Kita bersyukur karena Johnson Oatman Jr. tidak menjadi putus asa walaupun selama bertahun-tahun dia harus bergumul untuk menemukan talentanya. Karena dia terus tekun menggumuli hal itu, akhirnya dia menemukan talentanya yang luar biasa. Dan kini salah satu karyanya itu, yaitu lagu ‘Count Your Blessings’ telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi berkat bagi berjuta-juta orang. Bahkan orang yang cacat parah dan diasingkan seperti wanita penderita kusta itu, hatinya melambung meluap dengan penuh sukacita saat menyanyikan lagu ‘Hitung Berkatmu’.

KISAH DIBALIK LAGU SUCI, SUCI, SUCI (Kidung Jemaat 2)

Awal mulanya lagu ini digunakan untuk ibadah hari Minggu Tri tunggal, sebab isinya mengundang para penyembah untuk bergabung dalam memuji keTuhanan Trinitas, memparafrasekan Wahyu 4:1-11, dan dari visi Yohanes tentang penyembahan tanpa akhir di Surga, ini adalah contoh dari upaya patuh Heber untuk menghindari emosi yang berlebihan. Namun kemudian lagu ini dinyanyikan diawal ibadah dalam peribadatan secara umum.

Himne yang sampai sekarang masih kita nyanyikan ini ditulis pada awal 1800-an selama Heber masih menjadi vikaris (1807-1823) di Hodnet, Shopshire, Inggris. Disana ia menjadi penulis himne yang produktif sampai menghasilkan lebih dari 100 himne. Bahkan himne misionaris yang agung, " From Greenland's icy mountains  Dari pegunungan es Greenland," terlepas dari kiasan India ("untaian karang India", "pulau Ceylon")-( From Greenland's icy mountains," notwithstanding the Indian allusions ("India's coral strand," "Ceylon's isle) ditulis sebelum dia menerima tawaran dari Calcutta. Lagu pemakaman yang menyentuh, "Engkau telah pergi ke kuburan," ditulis tentang kehilangan bayi pertamanya, yang merupakan kesedihan yang mendalam baginya. Beberapa himne diterbitkan (1811-16) di Christian Observer, sisanya tidak diterbitkan sampai setelah kematiannya.

Sebagai bentuk penghargaan kepada Heber, Himne yang dibuatnya diterbitkan pertama kali dalam A Selection of Psalms and Hymns for Parish Church of Banbury (Edisi ketiga, 1826) dan kemudian oleh janda penulis dalam Hymns Written and Adapted to the Weekly Church Service of the Year (1827).

Reginald Heber lahir 21 April 1783 dari keluarga kaya dan terpelajar. Dia adalah seorang pemuda yang cerdas, menerjemahkan sebuah puisi klasik Latin ke dalam syair bahasa Inggris pada saat dia berusia tujuh tahun, kuliah di Oxford pada usia 17, dan memenangkan dua penghargaan untuk puisinya selama berada di sana. Setelah lulus ia melayani sebagai pendeta di gereja ayahnya di desa Hodnet dekat Shrewsbury di bagian barat Inggris di mana ia tinggal selama 16 tahun. Ditahbiskan pada tahun 1807, dan kemudian mengambil alih paroki tua ayahnya di Shropshire setelah kematian ayahnya pada tahun 1804. Dia segera menjalankan tugas sebagai pendeta desa, setelah menikahi Amelia, putri Dr. Shipley, dekan St. Asaf.

Dalam tugasnya, Reginald menggabungkan tugas pastoralnya dengan tugas geraja lainnya, menulis himne, dan karya sastra yang lebih umum yang termasuk studi kritis karya lengkap dari pendeta abad ke-17, Jeremy Taylor. Selama menjalankan tugas sebagai uskup, Reginald juga melakukan perjalanan panjang dari Skandinavia, Rusia dan Eropa Tengah.

Pada tahun 1812 ia dijadikan prebendary (berhubungan dengan administrasi) St Asaf, atas permintaan ayah mertuanya. Pada tahun 1815 ia diangkat sebagai dosen Bampton di Oxford, dan pada tahun 1822 sebagai pengkhotbah di Lincoln's Inn, dan pada akhir tahun yang sama (melalui perantaraan temannya CWW Wynn) ia ditawari jabatan kosong di Calcutta. Di India, ia diangkat sebagai uskup di Calcutta pada tahun 1823.

Selama masa keuskupannya yang singkat,  ia melakukan perjalanan yang sangat luas di wilayah keuskupannya di India, dan bekerja keras untuk meningkatkan kondisi kehidupan spiritual dan kehidupan umum dari umatnya.  Selain itu, Reginald harus menjalani tugasnya dengan Kombinasi dari tugas yang sulit, iklim yang tidak bersahabat dan kondisi kesehatan yang tidak terlalu diperhatikan sehingga membawa kehancuran dan kematian saat mengunjungi Trichinopoly (sekarang Tiruchirappalli). Dia meninggal karena stroke pada tanggal 3 April 1826.

Setelah kematiannya, sebuah Monumen didirikan untuk mengingatnya baik berada di India dan di Katedral St. Paulus, London. Sebuah koleksi lagu-lagunya diterbitkan tak lama setelah kematiannya, salah satunya, lagu himne yang dalam bahasa Indonesia diberi judul "Suci, Suci Suci", adalah nyanyian populer dan dikenal luas pada Minggu Trinitas.

Meskipun keuskupan Heber singkat, dia telah meninggalkan kesan yang baik, dan berita kematiannya membawa banyak penghormatan dari seluruh India. Sir Charles Grey, seorang teman lama Oxford yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Calcutta, berbicara tentang keceriaan Heber, humor yang baik, kesabaran dan kebaikannya.

Dia melakukan perjalanan tanpa kenal lelah melalui semua bagian keuskupannya yang berat, tidak hanya melaksanakan tugas uskupnya dengan rajin, tetapi juga menyembuhkan perbedaan dan menyemangati hati serta menguatkan tangan para pekerja Kristen kemanapun dia pergi.

Sunday, March 22, 2020

APA PENTINGNYA IBADAH KELUARGA?


Ibadah keluarga dijaman sekarang ini sepertinya menjadi barang langka untuk diwujudkan; tidak banyak keluarga-keluarga Tuhan yang masih setia menyediakan waktu untuk berkumpul bersama kemudian menyanyi, berdoa dan membaca alkitab secara bersama-sama. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk tidak menganggap penting ibadah keluarga dilakukan. Kalau alasan dari saya adalah: pekerjaan yang menyita waktu, anggota keluarga hanya mementingkan kesenangan sendiri-sendiri, tidak dibiasakan, tidak ada komunikasi ke arah bersekutu atau beribadah bersama. 
Namun ketika kita semua dilanda wabah Corona, mau tidak mau oleh peratuan Social Distancing dari pemerintah diantaranya: Bekerja dirumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah, maka ibadah keluarga harus dilakukan. Sekalipun ada yang belum "sreg" dan belum bisa menerima, tetapi harus dilakukan. Ibadah keluarga ini bisa dilakukan bersama, kuncinya adalah ada kesediaan semua anggota keluarga untuk meluangkan waktu bersama-sama. Jika hal ini tidak ada maka mustahil akan dapat dilakukan. Jikalau sudah bisa meluangkan waktu bersama ada lagi yang perlu dipahami mengenai ibadah keluarga ini, yaitu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab dan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Bisa dilakukan dengan cara hanya memuji Tuhan dan berdoa, atau berdoa dan membaca alkitab, atau dengan liturgi yang lebih panjang. Tidak kalah pentingnya adalah bersama memahami terlebih dahulu mengenai istilah ibadah keluarga. 
Berkaitan dengan kata ibadah, ibadah diambil dari kosa kata  “äbodah” (basa ibrani) lan ebdu (bhs Arab) yang artinya abdi/hamba. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang digunakan adalah kebaktian, yang berasal dari kata bakti atau dalam bahasa jawa adalah bekti. Beribadah artinya berbakti. Oleh sebab itu ibadah itu sama dengan berbakti, secara iman kristen artinya memberikan dirinya sebagai hamba untuk melayani Tuhan Allah yang patut disembah. Beribadah merupakan salah satu cara untuk bertemu dan berhubungan antara umat sebagai hamba dengan Tuhan Allah sebagai yang Kuasa. Jika dilogika, yang mempunyai kerja dalam ibadah itu siapa? Tentu saja Tuhan Allah yang mempunyai kerja, kita hanyalah hamba atau pelayan yang dipakai supaya peribadatan mendatangkan berkat dalam hidup.
Jikalau ibadah keluarga ini adalah salah satu cara pertemuan dan membangun hubungan dengan Tuhan Allah maka sekalipun beribadah di rumah, kita harus dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Jangan sampai salah memahami, hanya karena ibadah dirumah lalu dilakukan dengan seenaknya, tanpa persiapan, sekehendak hati, tidak harus mandi juga tidak apa-apa. Ada yang bilang "Tuhan sudah tahu" Betul Tuhan memang maha tahu, tahu kalau kita tidak menghormati dan menghargaiNya sebagai yang memberi hidup. 

Pada jaman PL, Isral yang hendak meninggalkan tanah perbudakan Mesir diperintahkan oleh Tuhan untuk beribadah di rumah. Kitab Keluaran 12:1-28 Tuhan Allah menetapkan sebagai awal mula adanya perayaan Paskah Israel. Dalam ayat 3-11, secara khusus bangsa Israel mendapatkan perintah dari Allah melalui Musa, ".................pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga, Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut........" Dalam ayat 11 "Dan beginilah kamu memakannya; pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat ditanganmu; buru-burulah kamu memakannya' itulah Paskah bagi TUHAN".
Setelah itu berkaitan dengan tulah ke-10 yang akan dijatuhkan kepada orang Mesir, Tuhan Allah berkata lagi  kepada Israel agar mereka dapat melakukan perayaan atas kejadian yang akan dihadapi oleh bangsa Mesir dan penyelamatan Allah atas Israel. Setelah itu Tuhan Allah menjalani Mesir untuk menulahinya,...Tuhan melewati pintu rumah yang telah diolesi dengan darah anak domba dan menyelamatkannya. Keluarga-keluarga Israel melakukannya, baik dengan keluarga inti maupun keluarga yang lain berkumpul dan berbakti kepada Tuhan.
Di dunia Perjanjian Baru, ketika jemaat mula-mula mulai berkembang mengabarkan kabar kesukaan; Pemimpin-pemimpin Yahudi dan penguasa Kerajaan Roma menghambat laju perkembangan jumlah pengikut Kristus, mereka ditangkapi, dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Oleh kondisi itulah maka, jemaat mula-mula kemudian beribadah di rumah bahkan ditempat tersembunyi. Tempat tersembunyi yang dimaksudkan adalah katakombe.  The Encyclopedia Judaica mengatakan bahwa  katakombe adalah salah satu tempat yang dikhususkan untuk mengubur jenasah (tempat pekuburan). Katakombe berada di bawah tanah dan berbentuk seperti gua.

punika satunggaling papan pasarean kadosdene goa, ing ngriku wonten papan kangge nyimpen jenasah. Dening para pendherekipun Gusti nalika semanten kadamel kangge ngibadah sesarengan.
Lumantar ingkang kula andharaken ing ngajeng lan sambet perkawis ibadah ing griya. Ing kawontenan punapa kemawon Ibadah ing griya punika perlu katindakaken dening brayat-brayat kagunganipun Gusti awit punika timbalan pribadi kaliyan Gusti minangka sarana kita tetunggilan kaliyan Panjenenganipun.
Ing kawontenan ingkang mrihatosaken, nalikanipun pasamuwan ngadhepi perkawis kadosdene wekdal punika; ibadah punika saged katindakaken ing griya. Ingkang baken; salebeting ibadah punika kita sami tansah nggadahi sikap minangka abdi utawi pelados ingkang ngajeni lan ajrih dhateng Panjenenganipun. Mbudidaya kanthi winatesing gesang kita, nunggil kaliyan Gusti Allah; Nyuwun supados tumidaking ibadah kita binerkahan dening Gusti. Temah berkahipun Gusti ugi kebabar ing gesang kita, ngiyataken manah lan kapitadosan kita ing wekdal punika. Amin.

Legacy Of Faith

 Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026 “Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut   mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak,...