Jessie Brown Pounds lahir di
Hiram, Ohio, di sebuah kota pinggiran Cleveland pada tanggal 31 Agustus 1861.
Ia lahir dari dari keluarga petani di desa Hiram, Portage County, Ohio. Ayahnya
Bernama Holland Brown dan ibunya Bernama Jane Abel Brown.
Jessie sebenarnya tumbuh menjadi
gadis yang normal, namun kesehatan yang buruk ketika masih anak-anak memaksanya
hanya menerima Pendidikan di rumah. Dia senang menulis baik artikel, puisi
maupun syair, sehingga tidak heran jika pada usia 15 tahun, dia mulai berani
mengirimkan artikel ke surat kabar Cleveland dan berbagai publikasi keagamaan.
Salah satu artikelnya berjudul,
"The Passing of Prince Albert,", selain itu ia juga menulis novel
"Inspirasional" seperti Rachel Sylvestre (1904); novel-novel ini
seringkali bercerita tentang keinginan Alexander Campbell untuk hidup menurut
doktrin Perjanjian Baru. Perombakan sastranya adalah penulis Inggris George
Eliot [Mary Ann Evans], yang sering dia kutip, dan Elizabeth Barrett Browning.
Jessie bahkan memilih nama pena "Auris Leigh" saat menulis untuk
Christian Evangelist yang terinspirasi oleh pahlawan feminis populer Browning,
Aurora.
"Anywhere with Jesus"
mungkin adalah puisinya yang paling terkenal. Beberapa puisinya telah diatur ke
sejumlah partitur musik, yang paling dikenal adalah lagu "Serenity"
oleh Daniel B. Towner (1850–1919). Puisinya tahun 1896 "Beautiful
Isle" menjadi lagu "Beautiful Isle of Somewhere", yang
dinyanyikan pada pemakaman Presiden McKinley dan dikritik oleh Presiden Wilson.
Jessie meninggal di rumahnya di
Hiram pada tanggal 3 Maret 1921.
Setiap orang bisa saja memiliki pengalaman masa lalu bahkan tidak
sedikit berupa penderitaan, dan persoalan hidup yang berat, atas hal tersebut
malah ada saja yang hidupnya dipengaruhi oleh peristiwa masa lalu bahkan
pengaruh yang bersifat negatif. Misalnya melahirkan disorientasi sifat: pemarah
yang diakibatkan oleh karena pengalaman masa lalu yang sering tertekan perasaan
batinnya; cemas dan kuwatir karena pernah mengalami trauma terancam hidupnya;
dan bentuk-bentuk disorder sifat, batin, dan perilaku yang lainnya. Keadaan
jiwa yang dipengaruhi pengalaman negatif masa lalu seperti ini akan membuat
hidup seseorang kehilangan damai sejahtera, maka perlu dibantu untuk dibebaskan
dan dimenangkan dari kemelut masa lalunya supaya setiap orang menjadi kuat dan
teguh menjalani hidup hari ini untuk menggapai masa depan yang penuh
pengharapan.
Tentu bukanlah perkara mudah untuk lepas dari persoalan masa lalu, apalagi
jika itu hadir lagi dalam kehidupan saat ini. Bangsa Israel mengalami keterpurukan
hidup pasca pembuangan, terutama terpuruk dalam kehidupan rohani, yaitu
bangunan bait Allah yang tidak terawat dan bahkan hancur ditinggalkan para
umat. Dalam situasi batin yang seperti ini, Hagai mendapat kasih karunia dari
TUHAN, untuk menyerukan nubuat terbuka kepada para pemimpin dan segenap umat
tentang pembangunan kembali rumah TUHAN. Nubuat yang disampaikan juga bernilai
penyemangat dan motivasi untuk segera meninggalkan keterpurukan dan melangkah
maju membangun harapan (Hagai 2:5). Seruan Hagai ini yang perlu kita sikapi
lebih agar memotivasi hidup kita untuk selalu Kuat Hati dan Berdirilah Teguh!
Bagaimana caranya? Pertama, dari hal sederhana bersyukur dan pujilah Tuhan
senantiasa seperti yang disarankan oleh pemazmur. Daud dalam keterpurukannya
merasakan suasana hati yang berat, namun ternyata ia justru memuji-muji TUHAN
dan merasakan betapa besar dan banyaknya kebaikan dari TUHAN yang ia alami. (Mazmur
145:14); kedua, menjaga kemurnian dan kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus, yang
olehNya kita beroleh pengampunan dosa, penebusan dari segala kesalahan, dan
keselamatan (2 Tesalonika 2:13). Untuk itu sikap kita menjali panggilan hidup
di dunia harus penuh dengan sukacita, dengan sabar dan setia menanti kedatangan
Tuhan Yesus, memegang teguh iman, dan mengisi hidup dengan selalu menghasilkan
karya yang baik. Ketiga, Berkait dengan kondisi masa lalu didunia dan masa
depan di kekalan, Tuhan Yesus menyadarkan kepada kita tentang pengharapan orang
percaya akan kehidupan kekal. Itu mendorong kita untuk menjadi lebih bertumbuh
dan bisa mengalami pembebasan dari beragam ikatan masa lalu, serta memupuk
harapan terhadap hari esok dan masa depan.
Membangun pola berpikir, batin, dan sikap yang baru berdasar-kan
nilai-nilai iman Kristen untuk menciptakan kekuatan yang mampu melepasakan diri
dari kungkungan pengalaman masa lalu yang tidak baik, akan menajadi pilihan.
Sampai pada akhirnya setiap orang bisa berdamai dengan masa lalu bahkan dapat
memakainya secaran postif pengalaman masa lalu tersebut untuk membangun masa
depannya.
Warisan hidup yang aku terima dari ayahku adalah perkataannya. Ada satu perkataan yang selalu ku pegang dan ini yang sangat memotovasi diriku dalam belajar banyak hal.
"TIDAK ADA ORANG YANG TIDAK BISA, YANG ADA ITU TIDAK MAU"
Apa maksudnya?
waktu itu ayahku menjelaskan bahwa semua orang yang diciptakan Tuhan diberikan anugerah dan talenta. Tinggal apakah orang itu mau untuk melahirkan dan mengembangkan talentanya atau tidak. Seringkali umumnya, kita mendengar jawaban seseorang ketika diminta melakukan sesuatu "Mohon maaf saya tidak bisa" Benarkah tidak bisa? bisa jadi orang itu tidak percaya diri, malu, atau memang tidak mau. Nah itu..yang ingin saya singgung, seringkali orang dengan gampang mengatakan tidak mau, padahal belum dicoba. Saya jadi ingat, ketika aku mengatakan yang sama "saya tidak bisa pak". Lalu ayahku bilang "wong ketok kok ora iso, padune ora gelem" (hal yang terlihat masak tidak bisa, yang ada kamu tidak mau).
Saya belajar dari ayah tentang banyak hal, bagiku, ayah adalah orang yang serba bisa. Mulai dari beternak, memasak, memahat patung, menggambar, semua dilakukannya. Aku belajar gambar, melukis dari beliau, aku belajar budidaya ikan dari beliau, aku belajar memelihara burung dan hewan lain juga dari beliau....kuncinya hanya itu, tidak ada yang tidak bisa, selama bisa dilihat pasti bisa dikerjakan.
Hal itu sekarang terbukti, selama aku mau melakukan, pasti bisa menjalankan, namun selama aku tidak mau maka tidak akan bisa menjalankan.
Ketika ilmu Desain muncul melalui program adobe atau Corel, aku pun belajar; ketika editing video dimasa pandemi Covid-19 mencuat, akupun juga belajar untuk editing. Ternyata juga bisa, dan kalau kamu tahu hasilnya bisa dilihat di channel Youtube Adi Sap Kisah atau bisa dilihat di Channel Arsaldenta PA (channel anakku).
Sekalipun tidak expert tapi sudah memulai nyatanya bisa. aku yakin kalau kamu punya motivasi yang sama "Tidak ada orang yang tidak bisa, yang ada itu yang tidak mau" maka aku yakin kamu akan lebih jago dari aku. Asal mau dan tekun, pasti memperoleh buahnya.
Salah
satu kata mutiara yang sering kita dengar yaitu “Hidup Adalah Perjuangan”
artinya Segala sesuatu dalam kehidupan ini harus kita upayakan, harus kita
perjuangkan. Hal itu mengingatkan kita bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang
kita inginkan kita membutuhkan perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak bisa hanya
dengan berdiam diri apalagi dengan bermimpi, yang kita inginkan akan datang
begitu saja. Hal ini juga berlaku dalam hidup iman kita. Tuhan Yesus telah
memberikan keselamatan kepada kita namun keselamatan itu juga harus
diperjuangkan agar yang sudah diberikan olehNya tidak musnah begitu saja.
Berkait
dengan hal itu, Rasul Paulus dalam ayat 12a terjemahan versi LAI yang menjadi
ayat Nats saat ini mengatakan “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang
benar dan rebutlah hidup yang kekal.” Untuk itulah engkau telah
dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.
Namun kali ini saya memakai terjemahan (versi Inggris NIV (New International
Version)= "berjuanglah dalam
perjuangan iman yang benar")
Jemaat
terkasih
Kata
"berjuang" berasal dari bahasa Yunani yaitu a·go·niʹze·sthe, yang berasal dari kata (a·gonʹ) yang berarti ”tempat
pertandingan.” Kemudian diadaptasi dalam kata bahasa Inggris ”agonize”
(menderita sekali). Awalnya kata ini ditujukan kepada seorang atlet sedang
menderita, atau berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hadiah di sebuah
stadion dalam perlombaan untuk mendapatkan hadiah. Jadi, meskipun kata kerja
Yunani yang digunakan di sini kemungkinan adalah suatu istilah khusus yang
artinya berlomba dalam pertandingan-pertandingan Yunani, istilah tersebut
menandaskan tindakan sepenuh jiwa berarti usaha separuh hati saja tidak akan cukup.
Jemaat
terkasih
Dalam
ayat 11 Rasul Paulus menyebut Timotius sebagai, “Manusia Allah”.Itu adalah sebutan yag luarbiasa karena dalam
Perjanjian Lama gelar ini diberikan untuk para nabi, namun, dalam Perjanjian
Baru, Timotius juga dipanggil dengan sebutan itu.
Apa
maksudnya? Yang dimaksud dengan manusia Allah adalah manusia yang telah dipilih
oleh Allah dan mau hidup terus dalam kebenaran Allah dan apapun tindakannya
hanya untuk memuliakan Allah.
Lalu
apa yang harus dilakukan oleh seorang “manusia Allah”?. Dalam ayat tersebut ada
tiga kata kerja penting yang menandai apa yang dikatakan Paulus. Timotius harus
melakukan: Pertama, “menjauhi semua ini”; kedua, “mengejar keadilan, ibadah,
kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; dan ketiga, “Bertanding dalam
pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal”. Tanggung jawab
yang berat, sebab menjauhi tindakan bersilat kata dan cinta uang,
ketidakadilan, ketidaksetiaan, kebencian, kekerasan, kemalasan dan tindakan
buruk selalu ada di tengah-tengah kita bahkan mempengaruhi kehidupan kita. Maka
tidak heran jika Paulus menyuruh Timotius untuk berjuang dalam perjuangan iman
yang benar karena hanya dengan perjuangan iman yang benar yang akan memperoleh
kehidupan yang kekal. Selain itu, Paulus mengatakan dalam ayat 20 “Hai Timotius, peliharalah apa yang telah
dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan
pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan”kata kerja aktif lagi yang ditulis disana
yaitu peliharalah dan hindarilah.
Paulus
menugaskan Timotius untuk menjaga iman yang telah dipercayakan kepadanya (1Tim
1:18-19; 4:6-11; 6:13-16; 1Tim 6:20). Bahasa Yunaninya berarti "memelihara
deposito" dan menunjuk kepada kewajiban suci untuk mengamankan milik
berharga yang telah dipercayakan kepada seseorang. Injil Kristus telah
diserahkan kepada kita oleh Roh Kudus (2Tim 1:14; 3:16). Kita harus
memberitakan Injil sepenuh yang murni dalam kuasa Pentakosta dari Roh Kudus
(Kis 2:4), selalu sedia untuk mempertahankan kebenaran-kebenaran berharga itu
bila diserang, diputarbalikkan atau disangkal.
Jemaat
terkasih dalam Tuhan
Melalui
nasehat Rasul Paulus kepada Timotius, gerejapun diingatkan saat ini bahwa:
Gereja
akan selalu diperhadapkan dengan pelbagai tantangan. Tantanganpun bisa terjadi
dari dalam maupun dari luar. Namun kita justru harus berani menjawab tantangan
itu dengan berusaha menjalani hidup dengan benar dan melakukan pekerjaan Tuhan
dengan sungguh-sungguh.
Sama
seperti Timotius, kitapun dipanggil dan di utus oleh Kristus tidak berhenti
melayani dan bersaksi bagi dunia walaupun mengalami penderitaan namun
penderitaan yang diterima tidak akan sia-sia karena ada mahkota kehidupan yang
disediakan oleh Tuhan.
Beberapa
kata kerja yaitu menjauhi bersilat kata dan cinta uang”; “mengejar keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; “Bertanding dalam
pertandingan iman yang benar, peliharalah dan hindarilah omong kosong; harus
terus diwujudkan dalam persekutuan gereja karena jika tidak demikian; apalah
arti sebuah gereja dan apalah arti kekristenan serta apakah fungsinya bapstisan
kita?
Mari bersama kita berjuang
untuk melakukan bersama, walaupun menderita tetapi penderitaan kita bukan
karena tindakan jahat namun tindakan yang mendatangkan kerajaan Allah bagi
sesama. “Berjuanglah terus” jemaat GKJ Sabda Winedhar. “berjuanglah dalam
perjuangan iman yang benar.” Amin
Acapkali ayahnya bernyanyi di
gereja, Johnson kecil selalu akan berdiri di kursi jemaat untuk mendengarkan
suaranya. Ia dan warga gereja yang lain senang bahkan mungkin takjub setiap
kali mendengar pujian yang dilantunkan oleh ayahnya. Makanya, sejak kecil
johson memiliki kerinduan besar untuk bisa bernyanyi di gereja. Ia ingin
seperti ayahnya yang telah memberikan teladan, selain pandai berdagang ayahnya
juga seorang penyanyi yang bersuara merdu.
Setelah remaja pun, Johnson terus
berusaha agar bisa menjadi seorang penyanyi gereja yang dikagumi seperti
ayahnya. Namun sayangnya, betapapun dia sudah berlatih, ternyata suaranya
tidaklah sebagus suara ayahnya dan semua orang menyadari hal itu. Johnson pun
terpaksa harus menghentikan niatnya untuk menjadi penyanyi rohani yang sukses.
Menginjak usia pemuda, Johnson Oatman
yang lahir 21 April 1856 di New Jersey itu berhasrat untuk melayani dengan cara
lain. Pada umur 19 tahun dia bergabung dengan gereja Metodis. Dan setelah
bertahun-tahun terlibat dalam pelayanan, dia ditahbiskan menjadi pendeta.
Johnson pun mulai melayani sebagai pendeta sepenuh waktu. Namun sekali lagi dia
harus menerima fakta yang pahit, semua orang menyadari bahwa dia kurang
berbakat dalam berkhotbah. Karena itu Johnson tidak lagi menjabat sebagai
pendeta fulltime. Hanya sekali-sekali saja dia diberi kesempatan untuk mengisi
pelayanan kotbah.
Untuk menghibur hatinya, Johnson
kemudian terjun ke dalam dunia bisnis, dia bekerja sama dengan ayahnya.
Bisnisnya dalam bidang retail justru sukses. Selain itu juga mengurus sebuah
biro asuransi yang besar di New Jersey. Penghasilan Johnson pun kini lebih dari
cukup secara materi. Meskipun Johnson telah menjadi pebisnis yang sukses, tapi
masih ada kekecewaan di hatinya. Dia bertanya-tanya, apa dia memang tidak dapat
menyamai ayahnya dalam melayani Tuhan? Dia sudah berusaha melayani dengan
menyanyi dan berkhotbah, namun dalam kedua bidang pelayanan itu ternyata dia
tidak bisa berkembang. Tidak banyak orang yang diberkati saat dia menyanyi
maupun berkhotbah.
Pada tahun 1878, Johnson Oatman
menikahi Wilhelmina Reid. Mereka bersama memiliki tiga orang anak. Namun ia terus
menggumuli apa yang bisa dia lakukan untuk melayani Tuhan dengan baik. Akhirnya
ketika usianya menginjak 36 tahun, Johnson mulai menemukan talentanya. Pada
saat itu dia mulai mengarang puisi berisi syair-syair rohani. Puisi-puisi
rohani Johnson yang kemudian menjadi lagu itu dengan cepat menjadi populer. Dia
menulis lagu hampir setiap hari, dengan rata-rata 200 lagu setahun dan memiliki
lebih dari 5.000 himne, termasuk lagu-lagu seperti Higher Ground dan No, Not One,
yang dia klaim sebagai favoritnya. Namun, ketika dipaksa untuk menetapkan harga
untuk nyanyiannya, ia menolak untuk menetapkan apa pun selain $ 1 per nyanyian.
Pada waktu Johnson berumur 41
tahun, dia mengarang sebuah puisi rohani yang diberi judul ‘Count Your
Blessings’ atau ‘Hitung Berkatmu’.
Seorang penulis berkata tentang
Count Your Blessings, "Itu seperti seberkas sinar matahari yang telah
mencerahkan tempat-tempat gelap di bumi." Sejak awal itu sangat populer di
Inggris Raya, di mana dikatakan, “Para lelaki menyanyikannya, para lelaki
bersiul, dan para ibu menyenandungkan lagu itu untuk menidurkan bayi mereka.”
Selama kebangunan rohani di Wales itu adalah salah satu nyanyian pujian yang
dinyanyikan di setiap kebaktian.
Kita bersyukur karena Johnson
Oatman Jr. tidak menjadi putus asa walaupun selama bertahun-tahun dia harus
bergumul untuk menemukan talentanya. Karena dia terus tekun menggumuli hal itu,
akhirnya dia menemukan talentanya yang luar biasa. Dan kini salah satu karyanya
itu, yaitu lagu ‘Count Your Blessings’ telah diterjemahkan ke berbagai bahasa
dan menjadi berkat bagi berjuta-juta orang. Bahkan orang yang cacat parah dan
diasingkan seperti wanita penderita kusta itu, hatinya melambung meluap dengan
penuh sukacita saat menyanyikan lagu ‘Hitung Berkatmu’.
Awal mulanya lagu ini digunakan untuk ibadah hari
Minggu Tri tunggal, sebab isinya mengundang para penyembah untuk bergabung dalam
memuji keTuhanan Trinitas, memparafrasekan Wahyu
4:1-11, dan dari visi Yohanes tentang penyembahan tanpa akhir di Surga, ini
adalah contoh dari upaya patuh Heber untuk menghindari emosi yang berlebihan. Namun
kemudian lagu ini dinyanyikan diawal ibadah dalam peribadatan secara umum.
Himne yang sampai sekarang masih kita
nyanyikan ini ditulis pada awal 1800-an selama Heber masih menjadi vikaris
(1807-1823) di Hodnet, Shopshire, Inggris. Disana ia menjadi penulis himne yang
produktif sampai menghasilkan lebih dari 100 himne. Bahkan
himne misionaris yang agung, " From Greenland's icy
mountains Dari pegunungan es
Greenland," terlepas dari kiasan India ("untaian karang India",
"pulau Ceylon")-( From Greenland's icy mountains,"
notwithstanding the Indian allusions ("India's coral strand,"
"Ceylon's isle) ditulis sebelum dia menerima tawaran dari Calcutta. Lagu
pemakaman yang menyentuh, "Engkau telah pergi ke kuburan," ditulis
tentang kehilangan bayi pertamanya, yang merupakan kesedihan yang mendalam
baginya. Beberapa himne diterbitkan (1811-16) di Christian Observer, sisanya
tidak diterbitkan sampai setelah kematiannya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada Heber, Himne
yang dibuatnya diterbitkan pertama kali dalam A Selection of Psalms and Hymns
for Parish Church of Banbury (Edisi ketiga, 1826) dan kemudian oleh janda
penulis dalam Hymns Written and Adapted to the Weekly Church Service of the
Year (1827).
Reginald Heber
lahir 21 April 1783 dari keluarga kaya dan terpelajar. Dia adalah seorang
pemuda yang cerdas, menerjemahkan sebuah puisi klasik Latin ke dalam syair
bahasa Inggris pada saat dia berusia tujuh tahun, kuliah di Oxford pada usia
17, dan memenangkan dua penghargaan untuk puisinya selama berada di sana.
Setelah lulus ia melayani sebagai pendeta di gereja ayahnya di desa Hodnet
dekat Shrewsbury di bagian barat Inggris di mana ia tinggal selama 16 tahun.
Ditahbiskan pada tahun 1807, dan kemudian mengambil alih paroki tua ayahnya di
Shropshire setelah kematian ayahnya pada tahun 1804. Dia segera menjalankan tugas
sebagai pendeta desa, setelah menikahi Amelia, putri Dr. Shipley, dekan St.
Asaf.
Dalam tugasnya,
Reginald menggabungkan tugas pastoralnya dengan tugas geraja lainnya, menulis
himne, dan karya sastra yang lebih umum yang termasuk studi kritis karya lengkap
dari pendeta abad ke-17, Jeremy Taylor. Selama menjalankan tugas sebagai uskup,
Reginald juga melakukan perjalanan panjang dari Skandinavia, Rusia dan Eropa
Tengah.
Pada tahun 1812
ia dijadikan prebendary (berhubungan dengan administrasi) St Asaf, atas
permintaan ayah mertuanya. Pada tahun 1815 ia diangkat sebagai dosen Bampton di
Oxford, dan pada tahun 1822 sebagai pengkhotbah di Lincoln's Inn, dan pada
akhir tahun yang sama (melalui perantaraan temannya CWW Wynn) ia ditawari
jabatan kosong di Calcutta. Di India, ia diangkat sebagai uskup di Calcutta
pada tahun 1823.
Selama masa
keuskupannya yang singkat, ia melakukan
perjalanan yang sangat luas di wilayah keuskupannya di India, dan bekerja keras
untuk meningkatkan kondisi kehidupan spiritual dan kehidupan umum dari umatnya.
Selain itu, Reginald harus menjalani
tugasnya dengan Kombinasi dari tugas yang sulit, iklim yang tidak bersahabat
dan kondisi kesehatan yang tidak terlalu diperhatikan sehingga membawa
kehancuran dan kematian saat mengunjungi Trichinopoly (sekarang
Tiruchirappalli). Dia meninggal karena stroke pada tanggal 3 April 1826.
Setelah
kematiannya, sebuah Monumen didirikan untuk mengingatnya baik berada di India
dan di Katedral St. Paulus, London. Sebuah koleksi lagu-lagunya diterbitkan tak
lama setelah kematiannya, salah satunya, lagu himne yang dalam bahasa Indonesia
diberi judul "Suci, Suci Suci", adalah nyanyian populer dan dikenal
luas pada Minggu Trinitas.
Meskipun
keuskupan Heber singkat, dia telah meninggalkan kesan yang baik, dan berita
kematiannya membawa banyak penghormatan dari seluruh India. Sir Charles Grey,
seorang teman lama Oxford yang menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Calcutta,
berbicara tentang keceriaan Heber, humor yang baik, kesabaran dan kebaikannya.
Dia melakukan
perjalanan tanpa kenal lelah melalui semua bagian keuskupannya yang berat,
tidak hanya melaksanakan tugas uskupnya dengan rajin, tetapi juga menyembuhkan
perbedaan dan menyemangati hati serta menguatkan tangan para pekerja Kristen
kemanapun dia pergi.
Ibadah keluarga dijaman sekarang ini sepertinya menjadi barang langka untuk diwujudkan; tidak banyak keluarga-keluarga Tuhan yang masih setia menyediakan waktu untuk berkumpul bersama kemudian menyanyi, berdoa dan membaca alkitab secara bersama-sama. Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk tidak menganggap penting ibadah keluarga dilakukan. Kalau alasan dari saya adalah: pekerjaan yang menyita waktu, anggota keluarga hanya mementingkan kesenangan sendiri-sendiri, tidak dibiasakan, tidak ada komunikasi ke arah bersekutu atau beribadah bersama.
Namun ketika kita semua dilanda wabah Corona, mau tidak mau oleh peratuan Social Distancing dari pemerintah diantaranya: Bekerja dirumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah, maka ibadah keluarga harus dilakukan. Sekalipun ada yang belum "sreg" dan belum bisa menerima, tetapi harus dilakukan. Ibadah keluarga ini bisa dilakukan bersama, kuncinya adalah ada kesediaan semua anggota keluarga untuk meluangkan waktu bersama-sama. Jika hal ini tidak ada maka mustahil akan dapat dilakukan. Jikalau sudah bisa meluangkan waktu bersama ada lagi yang perlu dipahami mengenai ibadah keluarga ini, yaitu dilakukan dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab dan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Bisa dilakukan dengan cara hanya memuji Tuhan dan berdoa, atau berdoa dan membaca alkitab, atau dengan liturgi yang lebih panjang. Tidak kalah pentingnya adalah bersama memahami terlebih dahulu mengenai istilah ibadah keluarga.
Berkaitan dengan kata ibadah, ibadah diambil dari kosa kata “äbodah” (basa
ibrani) lan ebdu (bhs Arab) yang artinya abdi/hamba. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang digunakan adalah kebaktian, yang berasal dari kata bakti atau dalam bahasa jawa adalah bekti. Beribadah artinya berbakti. Oleh sebab itu ibadah itu sama dengan berbakti, secara iman kristen artinya memberikan dirinya sebagai hamba untuk melayani Tuhan Allah yang patut disembah. Beribadah merupakan salah satu cara untuk bertemu dan berhubungan antara umat sebagai hamba dengan Tuhan Allah sebagai yang Kuasa. Jika dilogika, yang mempunyai kerja dalam ibadah itu siapa? Tentu saja Tuhan Allah yang mempunyai kerja, kita hanyalah hamba atau pelayan yang dipakai supaya peribadatan mendatangkan berkat dalam hidup.
Jikalau ibadah keluarga ini adalah salah satu cara pertemuan dan membangun hubungan dengan Tuhan Allah maka sekalipun beribadah di rumah, kita harus dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Jangan sampai salah memahami, hanya karena ibadah dirumah lalu dilakukan dengan seenaknya, tanpa persiapan, sekehendak hati, tidak harus mandi juga tidak apa-apa. Ada yang bilang "Tuhan sudah tahu" Betul Tuhan memang maha tahu, tahu kalau kita tidak menghormati dan menghargaiNya sebagai yang memberi hidup.
Pada jaman PL, Isral yang hendak meninggalkan tanah perbudakan Mesir diperintahkan oleh Tuhan untuk beribadah di rumah. Kitab Keluaran 12:1-28 Tuhan Allah menetapkan sebagai awal mula adanya perayaan Paskah Israel. Dalam ayat 3-11, secara khusus bangsa Israel mendapatkan perintah dari Allah melalui Musa, ".................pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga, Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut........" Dalam ayat 11 "Dan beginilah kamu memakannya; pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat ditanganmu; buru-burulah kamu memakannya' itulah Paskah bagi TUHAN".
Setelah itu berkaitan dengan tulah ke-10 yang akan dijatuhkan kepada orang Mesir, Tuhan Allah berkata lagi kepada Israel agar mereka dapat melakukan perayaan atas kejadian yang akan dihadapi oleh bangsa Mesir dan penyelamatan Allah atas Israel. Setelah itu Tuhan Allah menjalani Mesir untuk menulahinya,...Tuhan melewati pintu rumah yang telah diolesi dengan darah anak domba dan menyelamatkannya. Keluarga-keluarga Israel melakukannya, baik dengan keluarga inti maupun keluarga yang lain berkumpul dan berbakti kepada Tuhan.
Di dunia Perjanjian Baru, ketika jemaat mula-mula mulai berkembang mengabarkan kabar kesukaan; Pemimpin-pemimpin Yahudi dan penguasa Kerajaan Roma menghambat laju perkembangan jumlah pengikut Kristus, mereka ditangkapi, dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Oleh kondisi itulah maka, jemaat mula-mula kemudian beribadah di rumah bahkan ditempat tersembunyi. Tempat tersembunyi yang dimaksudkan adalah katakombe. The Encyclopedia Judaica mengatakan bahwa katakombe adalah salah satu tempat yang dikhususkan untuk mengubur jenasah (tempat pekuburan). Katakombe berada di bawah tanah dan berbentuk seperti gua.
punika
satunggaling papan pasarean kadosdene goa, ing ngriku wonten papan kangge
nyimpen jenasah. Dening para pendherekipun Gusti nalika semanten kadamel kangge
ngibadah sesarengan.
Lumantar
ingkang kula andharaken ing ngajeng lan sambet perkawis ibadah ing griya. Ing
kawontenan punapa kemawon Ibadah ing griya punika perlu katindakaken dening
brayat-brayat kagunganipun Gusti awit punika timbalan pribadi kaliyan Gusti
minangka sarana kita tetunggilan kaliyan Panjenenganipun.
Ing
kawontenan ingkang mrihatosaken, nalikanipun pasamuwan ngadhepi perkawis
kadosdene wekdal punika; ibadah punika saged katindakaken ing griya. Ingkang
baken; salebeting ibadah punika kita sami tansah nggadahi sikap minangka abdi
utawi pelados ingkang ngajeni lan ajrih dhateng Panjenenganipun. Mbudidaya
kanthi winatesing gesang kita, nunggil kaliyan Gusti Allah; Nyuwun supados tumidaking
ibadah kita binerkahan dening Gusti. Temah berkahipun Gusti ugi kebabar ing
gesang kita, ngiyataken manah lan kapitadosan kita ing wekdal punika. Amin.