Thursday, December 13, 2018

BANCAAN TRADISI YANG MEREKATKAN

Bancaan adalah kata yang sudah tidak asing lagi, aku mendengarnya dari sejak aku kecil sampai sekarang. Tidak hanya mendengarnya tetapi juga melakukan tradisi bancaan, karena kalau bapakku yang diundang tetangga yang mengadakan syukuran tidak bisa datang, biasanya akulah yang disuruh untuk mewakili. Tiap kali sehabis acara bancaan itu aku biasa membawa makanan yang lengkap beserta lauk-pauknya. Mulai dari dibungkus daun jati, lalu besek (wadah dari sayatan kulit bambu yang bentuk wadah), wadah dari plastik sampai yang pakai kardus seperti sekarang ini. Herannya, aku selalu senang untuk datang di tradisi bancaan, kenapa? Karena disana aku bisa bertemu dengan banyak orang dan teman-teman sebaya yang senasib dengan diriku (yang menggantikan orang tua).
Apa sih bancaan itu?  "Bancaan" dalam pengertian jawa berarti, tradisi makan makanan banyak orang dan bersama-sama. adapun bancaan sering dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur kepada sang pencipta atas keberkahan, kenikmatan, kesehatan, rezeki dan umur yang panjang. Contoh yang sering dilakukan adalah kehamilan tujuh bulan, peringatan kematian, bancaan rumah baru, bancaan mendapatkan pekerjaan, sehabis pernikahan, dsb.
Biasanya, bancaan ini dilakukan dimalam hari setelah sholat imsak. Jaman waktu masih kecil, bancaan ini berupa nasi putih, kemudian lauk pauk (bisa tempe/tahu, ikan atau daging ayam) yang digelar diatas daun jati yang disambung-sambung menjadi sangat lebar diatas tikar. Setelah pak Kyai membacakan doa sesuai dengan yang diminta oleh yang mempunyai hajat, lalu ada beberapa orang yang kemudian membagi nasi dan lauknya dilembar daun jati kepada masing-masing orang yang hadir disitu. Bahkan jika tetangga yang diundang ada yang tidak hadir biasanya makanan yang sudah dibungkus dititipkan kepada yang hadir. 
Namun dengan berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai memudar, dengan berbagai alasan salah satunya ke-praktis-an, makanya sekarang kalau ada bancaan di masyarakat tidak lagi menggelar daun jati atau daun pisang namun sudah ditaruh di kotak kardus makanan.
Bagi masyarakat jawa bancaan tidak hanya sekedar makan bersama, tetapi sebagai alat pemersatu antar tetangga sekalipun berbeda agama dan keyakinan. Bancaan merupakan tatanan serta tuntunan tentang kebersamaan, kerukunan dan kesederhanaan melalui sebuah simbol nasi tumpeng yang dinikmati bersama dan ada doa yang menyertainya. Tradisi adat Jawa bancaan ini dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat Jawa dimaksudkan sebagai bentuk pelestarian budaya dan juga sebagai pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Tuesday, December 4, 2018

KHASIAT UNDUR-UNDUR

Undur-undur termasuk binatang serangga berukuran kecil, berjalan mundur dan sarangnya dipasir yang mirip lubang kecil. Undur-undur adalah sebutan untuk kelompok serangga dari familia Myrmeleontidae (kadang-kadang salah dieja sebagai Myrmeleonidae). Di dunia ini diperkirakan ada sekitar 2.000 spesies undur-undur dan mereka tersebar di seluruh dunia, terutama di wilayah bersuhu hangat dan berpasir

Nama "undur-undur" diberikan pada hewan ini karena kebiasaan larvanya berjalan mundur saat menggali sarang jebakan di tanah. Di daerah Barat, hewan ini dikenal dengan nama antlion (semut singa). Nama itu diberikan karena kebiasaan larvanya yang memburu semut secara ganas dengan cara menggali jebakan di dalam tanah sehingga dianggap sebagai "singanya para semut".

Undur-undur memiliki ukuran yang bervariasi. Jenis undur-undur terbesar di dunia diketahui berasal dari genus Palpares yang hidup di Afrika dan rentang sayapnya mencapai 16 cm. Spesies yang terkecil berasal dari wilayah Arabia dan rentang sayapnya hanya sekitar 2 cm. Mayoritas undur-undur sendiri umumnya berukuran antara 4–10 cm
Larva undur-undur terkenal sebagai pemangsa yang ganas karena ia memakan hampir segala jenis Arthropoda kecil, terutama semut. Ia berburu secara pasif dengan cara membuat sarang jebakan berbentuk corong, lalu bersembunyi di tengahnya sambil menunggu ada mangsa yang terperosok masuk. Bila ada mangsa terjebak masuk ke dalam perangkapnya namun masih bisa bergerak naik, larva undur-undur akan melempari mangsanya dengan butiran pasir agar tergelincir. Larva undur-undur mengetahui kehadiran korbannya dengan cara merasakan getaran dari gerakan korbannya. Larva undur-undur juga memiliki sepasang rahang tajam dan di ujungnya terdapat lubang untuk menyuntikkan racun ke dalam tubuh mangsanya untuk membunuhnya, lalu mulai menghisap cairan tubuhnya.

Ternyata sekalipun badannya terbilang sangat kecil, namun undur-undur dipercayai mempunyai manfaat untuk kesehatan, khususnya yang sudah terkenal yaitu menyembukan penyakit Diabetes Militus. Cina adalah sebuah negara terkenal dengan berbagai pengobatan herbalnya. Mereka telah memakai ubur-ubur untuk menyembukan penyakit Diabetes Militus. Seperti yang kita tahu bahwa diabetes adalah penyakit yang disebabkan  karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas tidak mencukupi untuk menyeimbangkan kadar gula yang masuk dalam tubuh. Akibatnya akan terjadi kelebihan kadar dula didalam tubuh, kelebihan darah pada tubuh tersebut dapat masuk ke dalam darah.

Selain itu undur-undur juga dipercaya mampu menurunkan darah tinggi, kebanyakan masyarakat Cina menggunakan serangga yang satu ini untuk obat herbal. Mengkonsumsinya dengan cara memasukkan undur-undur hidup kedalam kapsul dan ditelan mentah-mentah.
Selain mengobati penyakit diabetes dan darah tinggi, Menurut terminologi orang awam mengatakan, undur-undur ini dipergunakan sebagai obat yang terbukti mujarab, diantaranya adalah:

  • Obat Stroke
  • Obat Rematik
  • Obat Asma dan Rasa Penat di Badan
  • Obat Sakit Kuning
  • Obat Pegal Linu
  • Penangkal Kanker
  • Mengatasi Varikokel
  • Mengobati Penyakit Malaria
  • Penangkal Tumor
  • Meningkatkan Kekebalan Tubuh



GURIHNYA GENDON ULAT POHON TURI

Korek...korek...dibatang bawah dekat akar pohon turi. "dapat...." ada 2 ulat yang sudah ditangan. Aku pindah ke pohon Turi berikutnya. Setengah jam berlalu, aku sudah mendapatkan 10 ekor ulat dari 4 pohon turi. Biasanya di setiap pohon Turi terdapat 2 sampai 3 ulat atau Gendhon. 


Memang untuk mendapatkan ulat pohon turi ini tidak begitu sulit bahkan terkesan cukup mudah. Tinggal cari pohon turi, lihat batang paling bawah, jika ada keratan, berlubang atau keluar getahnya berarti disitu ada ulatnya. Biasanya yang dimakan ulat ini, pohon turi yang sudah besar dan agak tua. Kemudian, korek lubang itu dengan pisau biar agak lebar, lihat kedalam (pasti akan ada disana), korek dengan batang kayu coba untuk dikeluarkan. Jika sudah keluar tinggal ambil. Mudah kan?


Bentuk ulat turi yang sering disebut gendhon, mempunyai tubuh gemuk gilig panjang berbuku-buku dengan warna putih susu dan moncong yang agak kemerahan. Warna putih ini juga menunjukkan bahwa hewan ini mempunyai kandungan protein yang tinggi. Si Gendhon memang terlihat menjijikkan karena berwujud ulat dan empuk (kenyal) badannya. 

Dibeberapa daerah di Jawa, Gendhon dipercaya dapat menyembuhkan masalah mulut, seperti sariawan ataupun gusi bengkak. Jika gendhon digoreng, biasanya akan mengeluarkan minyak yang cukup banyak. Gendhon goreng itu juga yang biasa aku santap, rasanya lesat dan gurih, karena ketika digoreng jadinya seperti kerupuk kulit sapi. "kemremes"  kata orang Jawa.

Coba deh...gurihnya gendon ulat pohon turi


BULUS

Bulus (Amyda cartilaginea) adalah sejenis labi-labi (kura-kura berpunggung lunak) anggota suku Trionychidae. Disebut berpunggung lunak karena sebagian perisainya terdiri dari tulang rawan dan tempurung punggungnya (karapas) dilapisi oleh kulit tebal dan licin. Dalam bahasa Inggris, hewan ini dikenal dengan nama Asiatic softshell turtle atau common softshell turtle; dalam bahasa Madura disebut ketempah.
Kura-kura yang hidup di air, dengan diameter punggung mencapai 100 cm, meskipun umumnya hanya hingga 60 cm saja. Kepala membulat, dengan mata kecil dan lubang hidung yang terletak di ujung belalai yang kecil dan pendek. Perisai relatif membundar, tertutupi oleh kulit tebal yang lunak dan licin, dengan bintil-bintil dan lipatan (gigir) rendah memanjang yang halus dan terputus-putus. Lehernya panjang, sehingga kepalanya dapat menjangkau sekurangnya setengah dari perisainya. Tungkai depan dan belakang dengan selaput penuh, cakar-cakarnya kuat dan berkuku runcing terutama pada tungkai depan. 
Warnanya bervariasi mulai dari hitam, abu-abu hingga kecoklatan. Hewan-hewan yang muda memiliki bintik-bintik kekuningan, terang ataupun buram. Kadang-kadang terdapat 6-10 bercak bulat agak gelap bertepi putih, tersusun dalam deretan melengkung di punggungnya. Sisi bawah tubuh halus licin, berwarna keputihan. 
Di Indonesia, nama labi-labi bervariasi sesuai dengan daerahnya seperti kuya (Pasudan-Jawa Barat), bulus (Jawa Tengah), labi (Minangkabau-Sumatera Barat), dan bidawang (Kalimantan). Secara luas masyarakat Indonesia lebih mengenalnya dengan sebutan labi-labi atau bulus. Ada pula yang menyebutnya sebagai kura-kura air tawar, karena sebagian besar hidupnya memang berada di air tawar.Di dunia internasional, labi-labi dikenal sebagai soft shelled turtles, dikarenakan kerapas atau cangkangnya lebih lunak jika dibandingkan dengan kerapas penyu (marine turtles) yang keseluruhan hidupnya berada di air laut.
Leher bulus dapat dipanjang pendekkan, jika ingin melindungi dirinya bulus akan memendekkan lehernya dan memasukan kepala serta tungkai-tungkainya kedalam theca. Leher bulus yang panjang ini dapat menyentuh karapasnya.
Bulus bernapas menggunakan paru-paru, demikian juga dengan anak-anaknya yang baru menetas. Sepanjang hidupnya, bulus tidak pernah mengalami perubahan alat pernapasan yang berupa paru-paru tersebut. Walaupun berada di kolam atau dalam air sakali-sekali kepala bulus akan muncul ke permukaan air untuk menghirup oksigen dari udara bebas.
Bapak kami mempunyai hobi memancing, biasanya kami diajak memancing sekaligus rekreasi. sesekali aku dan adikku diajak mancing ditempat-tempat dimana orang tidak pernah mengira bahwa disitu terdapat banyak ikan atau ada spesies kura-kura air tawar diatas.
Namanya juga hobi memancing, bapak tahu persis tempat mana yang ada penghuni bulusnya. Tapi untuk menangkap bulus dengan cara memancing bukanlah perkara mudah. Kalau sampai mendapatkannya itu sebuah keberuntungan. Kenapa demikian? 
Hewan ini sekalipun tidak bergigi, tetapi rahangnya sangat kuat dan tajam. Beberapa kali senar pancing putus karena gigitan bulus. Makanya kalau sampai mendapatkan bulus, mata pancing dibiarkan dimulut, senar dipotong, baru setelah hendak dimasak karena sudah mati, mata pancing baru dilepaskan. Beberapa kali kami menikmati lezatnya daging bulus, kata bapak cukup beberapa kali, supaya si bulus lestari hidup di habitatnya.
Namun barangkali, entah sudah fakta atau masih mitos, orang mempercayai bahwa bulus mempunyai khasiat yang berhubungan dengan kesehatan, keperkasaan dan kecantikan maka terjadi perburuan yang tidak mempertimbangkan kelestarian hidup bulus. Barangkali kita sekarang ini sudah mulai jarang menemukan mereka di sungai sekitar kita.
Bulus mulai jarang kita temukan, barangkali sudah menjadi hewan langka. Sebagian mengambil cangkangnya karena dipercaya berkhasiat untuk kebugaran. Parahnya, beberapa daerah, bahkan di Indonesia, daging mereka sering digunakan untuk bahan makanan. Mulai dari sate hingga tongseng. Padahal, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), bulus tergolong hewan yang rentan punah. 
Sayang ya.....







Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Bulus).
https://www.dunia-perairan.com/2012/12/labi-labi-bulus.html
http://bbat-sukabumi.tripod.com/b_labi.html

MATURNUWUN MBAH TARMINAH

Rumah sederhana dipinggir sawah yang dihuni oleh dua orang tua dan anak-anak mereka. Bentuk rumahnya sederhana. Berdinding bambu anyaman. Dihalaman depan terdapat sumur timba, dengan sedikit halaman depan. Rumahnya menghadap selatan, itu yang aku ingat. Salah satu anaknya yang bungsu bahkan (maaf) lumpuh satu kakinya (karena panas tinggi diwaktu kecil), tapi ia justru anak yang paling ceria. Mereka memang orang sederhana dengan segala keterbatasannya, tetapi aku justru nyaman dengan mereka. Mereka diperkenalkan oleh ibu kepadaku sebagai saudara. 
Sejak kecil aku dan adik-adikku diasuh oleh mbah Tarminah (sebutan untuk ibu keluarga sederhana ini). Apalagi jika bapak dan ibu sedang bepergian, kami bertiga selalu dititipkan ke mbah Tarminah untuk diasuh. Memang ada mak'e (simbah) dirumah, tetapi biasanya ibu selalu meminta agar mbah Tarminah ikut membantu momong kami bertiga. Mbah Tarminah orang yang sabar, kesabarannya itu pula yang membuat kami nyaman didekatnya.
Sejak kami masih kecil sampai kami beranjak dewasa dan mulai bekerja di luar kota, mbah Tarminah setia menemani keluarga kami.
Ada satu anak mbah Tarminah yang selalu diajak ke tempat kami yaitu mas no (maaf ya mas, aku lupa nama lengkapmu), tapi yang kental dalam ingatanku panggilannya mas no. Dia memang mempunyai keterbatasan karena kakinya, tetapi kami tidak pernah meledeknya bahkan merendahkannya. Karena orang tuaku selalu mengajarkan supaya tidak merendahkan orang, sekalipun mereka berstrata sosial dibawah kita. Bagi kami, mas no adalah saudara kami yang selalu kami rindukan sampai nanti.
Bagi orang lain disekitar kami, keluarga mbah Tarminah adalah orang-orang yang membantu kami karena mereka bekerja pada kami. Sekarang kami tegaskan kepada semua orang (termasuk kalian yang baru baca), mereka bukan orang seperti itu, mereka adalah keluarga kami. Mereka orang-orang yang tulus dalam keterbatasan, mereka adalah orang-orang yang berjasa mengenalkan kami tentang hidup. 
Sangat lekat dalam ingatanku, ketika kami bersama mas no habis main diladang sebelah utara rumah mbah Tarminah, aku sangat capek.  Mbah Tarminah menyuruhku untuk membersihkan kaki, tangan dan muka. Mbah kakung mengambilkan air dari sumur depan rumah dengan cara menimba, sehabis itu aku disuruh untuk makan dengan mas no (tapi aku lupa sayur dan lauknya apa...). Hampir sering aku bermain ditempat mbah Tarminah untuk bermain dengan mas no pada waktu masih kecil. 
Setelah aku beranjak dewasa dan mulai meninggalkan kampung halaman bekerja di rantau, akupun berpisah dengan mbah Tarminah dan terutama mas no. Menurut cerita mbah Tarminah, mas no mendapatkan berkah luar biasa. Waktu aku mendengar itu..sangat bangga padanya. Sekalipun dalam keterbatasan fisik dia pejuang tangguh. Walau sekarang sudah lama tidak bertemu secara fisik, tetapi karena teknologi aku bisa tetap menjalin tali silaturahmi dan persaudaraan, karena bagi kami (khususnya aku) mas no adalah saudaraku. 

Sekarang, ketika tulisan ini ditulis, mbah kakung dan mbah Tarminah yang momong aku sejak kecil telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tetapi setiap aku pulang kampung aku sempatkan untuk menengok kuburan emak (simbah putri) dan kuburan mbah Tarminah. Dua orang tua itulah yang membantuku mengajari hidup dan menjalani hidup. kenapa aku ingin menulis ini, karena aku hanya mau mengucapkan : "maturnuwun mbah Tarminah", panjenengan mboten badhe kula lalekke"

SEDAPNYA SAYUR BECEK

Di warung makan, sebelah timur polsek Grobogan, aku memarkirkan motor untuk berhenti sejenak. Niatnya hanya ingin beli minum, karena kebetulan di dekat warung makan itu juga ada toko kelontong. Tapi setelah melihat warung makan itu lagi, jadi ingat kalau warung makan itu adalah warung yang dulu selalu menjadi tempat jujukan ketika aku diminta beli sayur becek oleh ibu. 
Aku melihat jam tangan, kebetulan sekali waktu menunjukkan pukul 11.35, aku urungkan niat beli minuman kemasan; "Kenapa tidak sekalian makan dan minum disitu, sekalian kalau masih jualan sayur becek aku bisa meleaspakan rindu terhadap sayu becek itu" pikirku. Aku memarkirkan motor lebih ketepi, lalu bergegas masuk ke warung makan.

"Kulanuwun, badhe maem, punapa wonten sayur becek budhe...?" (permisi, saya mau makan, apakah ada sayur becek budhe?)
"Wonten mas...lenggah rumiyin"kata penjual warung yang sudah berumur cukup tua.(Ada mas, duduk dulu, kata penjual warung yang sudah berumur cukup tua)
"nggih budhe" (iya budhe) sahutku
Beberapa saat sembari, menyodorkan mangkuk berisi sayur becek dan sepiring nasi putih, budhe penjual warung berkata: "monggo mas......lho...lho iki kan mas....(namaku disebut), nganti pangling budhe...lha saiki lemu..badhe tindak endi iki?"
"Inggih budhe punika kula...badhe nuweni simbah teng pondok...kalawau ngelak lajeng sisan maem teng mriki amargi kangen kaliyan sayur becek.."
Sembari makan dan setelah pemilik warung menyodorkan minuman, kami mengobrol sampai aku selesai makan sayur becek. Sedapnya sayur becek yang sudah lama tidak aku makan.
Rasa kangen untuk menyantap sayur becek telah terobati. Bener-bener kuliner yang tidak pernah akan tergantikan dilidah.
Sayur becek ini memang sayur khas penduduk kabupaten Grobogan dan sekitarnya. Sayur Becek yang dulunya hanya dihidangkan pada saat ada jamuan pesta orang desa, seperti perkawinan maupun juga khitanan khusus di daerah pedesaan, sekarang sudah banyak dijual di rumah makan yang terdapat di Grobogan .

Sayur Becek didominasi tulang iga sapi dengan kuah yang melimpah dan berwarna keruh, karena biasanya kuah itu didapatkan dari proses memasak daging dan iga sapi atau yang disebut kuah kaldu daging. Kuah itu kemudian dicampur dengan bumbu lain seperti cabe merah, bawang merah, bawang putih, kemiri dan ketumbar (yang ditumbuk menjadi satu) setelah itu, tumbukan tersebut dimasukkan dalam rebusan tulang iga. buat menyempurnakan aroma, rebusan tulang serta bumbu tersebut dicampur dengan daun kedondong serta daun dayakan. Dalam penyajiannya, sayur becek ini disajikan bersama sepiring nasi, kering tempe serta kacang tolo sebagai lalapan. 
Sekarang sekalipun aku sudah tidak lagi hidup di Grobogan, tetapi kalau berkunjung ke tempat saudara dan tanah kelahiran, pasti ku sempatkan untuk melepas rindu lidah terhadap sayur becek. Sayur Becek yang lezat dan sedapnya tak terlupakan, sedapnya sayur becek khas kota Grobogan.


BOTHOK YUYU

Bagi saudara-saudara yang hidup dipedesaan pasti tahu hewan yang satu ini. Betul dialah yuyu, hewan berkaki 10 (termasuk capit) yang berjalan miring, biasa ditemukan di perairan air tawar baik disawah, diparit maupun di sungai berarus lambat, selokan. Pada musim penghujan, yuyu (nama=Jawa dan Bali) melimpah jumlahnya. 

Menurut Wikipedia, Yuyu atau Yuyu sawah (Parathelphusa convexa) adalah sejenis yuyu dari suku Gecarcinucidae. Menyebar terbatas di Jawa dan Bali,yuyu ini biasa ditemukan di sawah-sawah, parit dan tanah bencah pada umumnya.
Kepiting bertubuh kecil; spesimen jantan terbesar dengan panjang dan lebar karapas berturut-turut 30 dan 40 mm. Sebagaimana namanya, tubuh spesies ini relatif tebal, lk. ½ lebar karapas, dan menggembung (convex) di bagian punggung. Tepi anterolateral bergigi tiga: satu di sisi luar ceruk mata, dan dua lagi merupakan duri epibranchial yang runcing, yang mengarah ke depan dan ke dalam. Di punggung bagian depan, melintang gigir memanjang dari sisi ke sisi yang disebut 'gigir tengkuk' (post-frontal crest, post-orbital cristae); gigir mana berujung kira-kira pada tengah-tengah dasar duri epibranchial yang pertama. Kaki-kakinya (pareopod) ramping; terdapat sebuah duri kecil yang runcing di ujung masing masing ruas merus, dekat persendian dengan ruas carpus.Ruas dactylus (ujung) melengkung, bergigi bergerigi.
Punggung berwarna kecokelatan hingga gelap; terdapat pola lekukan di punggung serupa huruf V atau U dengan sisi atas melebar, menyambung dengan lekukan huruf H di bagian bawahnya; agak-agak mirip pola jam pasir melebar. Sisi ventral keputihan atau kekuningan, dengan abdomen (hewan jantan) bentuk huruf T terbalik bersegmen.
Bagi para petani, yuyu ini adalah hama yang merusak, terutama bibit padi, makanya mereka seringkali memusnahkan yuyu ini. 
Tetapi bagi sebagian orang (khususnya dipedesaan), yuyu ini bisa dijadikan lauk yang lezat. Sewaktu aku masih hidup di daerah pedesaan. Orang tuaku seringkali mencari yuyu untuk dijadikan lauk makanan, biasanya kalau tidak digoreng, dibuat campuran sayur lompong atau dibuat bothok yuyu. bener-bener lezat. Kalian pasti tahu ya  kalau berbicara tentang bothok? 
Botok (bahasa Jawa bothok) adalah makanan khas Jawa yang terbuat awalnya dari ampas/bungkil kelapa yang sudah diambil sarinya (santan). Pada awalnya botok yang terbuat dari ampas kelapa ini dimasak, agar ampas kelapa yang masih bergizi ini tidak dibuang. Oleh karena itu ampas kelapa ini kemudian dibumbui dengan cabai, garam, merica dan daun salam, dibungkus dalam daun pisang, yang kemudian dikukus dalam uap panas. 
Berbeda sedikit dalam pembuatannya, jika lauk bothok ini dibuat salah salah satunya berbahan yuyu. 
Sementara, untuk membuat botok yuyu, kepiting sawah yang biasanya diperoleh dari sawah atau sungai dibersihkan hingga benar-benar tak ada kotoran atau lumut yang menempel di tubuh. Setelah itu, yuyu digiling atau ditumbuk hingga halus dan berair.
Saripati yuyu itu kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu botok, lalu dibungkus daun pisang. Setelah itu, botok dikukus hingga cukup matang untuk dihidangkan.
Bener-bener makanan lezat, apalagi biasanya lauk bothok yuyu ini disajikan dengan nasi jagung dan sayur lompong. Makyusss deh...

Legacy Of Faith

 Catatan WA, di salah satu hari dibulan Februari 2026 “Syallom Pak Pendeta, terima kasih sudah ikut   mendoakan saya. Saya ingin cerita Pak,...